Sabtu, 21 Januari 2012

Mengapa Musibah Selalu Datang Menimpa Kita



الحَمْدُ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ الله فَلاَ مُضِلَ لَهُ ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِيًا مُرْشِدًا ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ؛ أَرْسَلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الكَافِرُوْنَ ، اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ .
أما بعد..
Kaum muslimin yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala
Sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjelaskan kesempurnaan qudrah-Nya, dan kesempurnaan hikmah-Nya, dan seluruh perkara di bawah pengaturan dan pengawasan-Nya, baik itu kelapangan, keamanan, kesempitan, dan ketakutan, semuanya adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Mahakuasa untuk mengaturnya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
يَسْئَلُهُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ
Semua yang ada di langit dan bumi selalu meminta kepadanya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan.” (QS. Ar-Rahman: 29)
Maka semua ketetapan berjalan berdasarkan hikmah dan keutamaan atau keadilan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tidaklah Allah Subhanahu wa Ta’ala menzalimi siapa pun di alam dunia ini. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَمَاظَلَمْنَاهُمْ وَلَكِن كَانُوا هُمُ الظَّالِمِينَ
Dan tidaklah Kami menganiaya mereka tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (QS. Az-Zuhruf: 76)
Jamaah kaum muslimin yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Sesungguhnya kita beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan qadar-Nya, dan bahwa iman kepada qodar Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah salah satu dari rukun iman yang enam, maka kita mengimani bahwa semua yang menimpa kita baik kebaikan maupun kelapangan itu adalah nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang wajib kita syukuri dengan cara kita mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala melaksanakan ketaatan dan menjauhi larangan-Nya, maka tatkala itu, kita berhak untuk mendapatkan janji Allah yaitu akan ditambahkan nikmat-Nya tersebut.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
Dan (ingatlah juga), tatkala Rabb kalian memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkati (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat peduh.” (QS. Ibrahim: 7)
Jamaah kaum muslimin
Sesungguhnya semua yang menimpa manusia baik kemadaratan dan kesempitan tidak lain hal itu karena kemaksiatan yang mereka lakukan, juga karena kelalaian mereka dari melaksanakan perintah-perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala serta disebabkan mereka melupakan syariat-syariat Allah. Allah mengabadikan hal itu di dalam kitabullah agar kita bisa berhati-hati dan waspada.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَمَآأَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُوا عَن كَثِيرٍ
Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. As-Syura: 30)
Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman,
مَّآأَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللهِ وَمَآأَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِن نَّفْسِكَ وَأَرْسَلْنَاكَ لِلنَّاسِ رَسُولاً وَكَفَى بِاللهِ شَهِيدًا
Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri.” (QS. An-Nisa: 79)
Jamaah kaum muslimin yang dimuliakan Allah
Sesungguhnya kebanyakan manusia pada hari ini, mereka hanya mengaitkan musibah-musibah yang menimpa mereka, dengan kejadian-kejadian alam semata, dengan faktor-faktor eksternal yang tidak ada kaitannya dengan kesalahan mereka sendiri. Maka, tidak ragu lagi bahwa hal itu karena kurangnya pemahaman mereka dan lemahnya keimanan mereka, dan juga karena mereka lalai dari menadaburi kitabullah dan sunah-sunah rasul-Nya.
Jamaah kaum muslimin yang dimuliakan Allah
Orang-orang yang beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya. Ketahuilah bahwasanya dibalik sebab-sebab dan faktor alam tersebut, ada juga sebab-sebab syar’i bahkan hal inilah sebab yang lebih dominan dan lebih kuat serta lebih membawa pengaruh dari terjadinya musibah-musibah yang ada tersebut. Hanya saja memang terkadang sebab-sebab dan faktor alam itu menjadi wasilah ataupun perantara dari sebuah ketetapan hukum dari sebab-sebab syar’i. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum: 41)
Hanya saja, kita wajib bersyukur atas nikmat yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada umat ini, dimana umat ini tidaklah akan diadzab dan disiksa yang ditimpakan kepada umat-umat yang terdahulu, umat ini tidak akan ditimpakan dengan suatu bencana yang merata dan mematikan seluruh manusia, sebagaimana yang telah terjadi pada kaum ‘Aad, tatkala mereka dihancurkan dengan badai angin topan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
سَخَّرَهَا عَلَيْهِمْ سَبْعَ لَيَالٍ وَثَمَانِيَةَ أَيَّامٍ حُسُومًا فَتَرَى الْقَوْمَ فِيهَا صَرْعَى كَأَنَّهُمْ أَعْجَازُ نَخْلٍ خَاوِيَةٍ {7} فَهَلْ تَرَى لَهُم مِّن بَاقِيَةٍ {8}
Yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus; Maka kamu lihat kaum Aad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk) maka kamu tidak melihat seorang pun yang tinggal di antara mereka.” (QS. Al-Haaqqah: 7-8)
Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menjadikan umat ini binasa seperti kaum Tsamud, mereka dihujani badai dan disambar petir sehingga mereka di dalam rumah-rumah mereka menjadi bangkai yang berserakan. Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menjadikan umat ini binasa seperti kaum Luth, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengirim kepada mereka hujan batu dan langit, dan membalik bangunan-bangunan mereka yang atas menjadi di bawah sehingga mereka hancur-lebur. Naudzubilla min dzalik.
باَرَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ الكَرِيْمِ وَنَفَعْنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فَيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِكْرِ الحَكِيْم . أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ الله لِي وَلَكُمْ وَلسَّائِرِ المُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ .

Khutbah Jum’at Kedua

الحَمْدُ للهِ غَافِرِ الذَنْبِ قَابِلِ التَوْبِ شَدِيْدِ العِقَابِ ، ذِي الطَوْلِ لَا إِلهَ إِلَّا هُوَ إِلَيْهِ المَصِيْر ، وَأَشْهَدُ أَنْ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ البَشِيْرَ النَذِيْرَ ؛ صلى الله عليه وعلى آله وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ فِي القَوْلِ وَالفِعْلِ وَالاِعْتِقَادِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا .
أما بعد
Jamaah kaum muslimin yang dimuliakan Allah
Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan hikmah dan rahmat-Nya terhadap umat ini, menjadikan balasan dan adzab dari dosa-dosa dan kemaksiatan-kemaksiatan mereka dengan penindasan sebagian mereka kepada sebagian yang lain, pembunuhan sebagian mereka kepada sebagian yang lain, dan penawanan sebagian mereka kepada sebagian yang lain.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلَى أَن يَّبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَابًا مِّن فَوْقِكُمْ أَوْ مِنْ تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ أَوْ يَلْبِسَكُمْ شِيَعًا وَيُذِيقَ بَعْضَكُمْ بَأْسَ بَعْضٍ انظُرْ كَيْفَ نُصَرِّفُ اْلأَيَاتِ لَعَلَّهُمْ يَفْقَهُونَ
Katakanlah, “Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan adzab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian kamu keganasan sebahagian yang lain. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahami(nya).” (QS. Al-An’am: 65)
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari jalan Sa’ad bin Abi Waqqas radhiallahu’anhu beliau berkata, “(Suatu hari) kami datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau shalat dua rakaat dan kami pun shalat bersamanya, kemudian beliau bermunajat kepada Rabb-Nya dengan sangat lama, kemudian mengatakan, “Aku memohon kepada Rabbku tiga hal, Aku memohon agar umatku tidak dibinasakan dengan al-gharqu (banjir bandang), maka Dia-pun mengabulkannya, dan Aku memohon agar umatku tidak dibinasakan dengan sebab paceklik panjang seperti yang terjadi pada keluarga Firaun, maka Dia-pun mengabulkannya, dan aku memohon agar umatku tidak dibinasakan dikarenakan ulah sebagian mereka pada sebagian yang lain, maka Dia mencegahnya dariku.” (HR. Muslim 2890)
Jamaah kaum muslimin yang dimuliakan Allah
Sesungguhnya kalian adalah orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat tersebut dan juga kepada hadis-hadis di atas yang telah shahih dari Rasulullah, akan tetapi mengapa kalian tidak memikirkannya? Mengapa kalian tidak memahaminya? Mengapa kalian tidak mengaitkan musibah yang datang bertubi-tubi menimpa kita itu karena sebab kelalaian dan rendahnya perhatian kalian terhadap agama kalian sendiri, sehingga dengan itu kalian akan kembali kepada Rabb kalian, dan kalian akan diselamatkan dari sebab-sebab ditimpakannya adzab yang merata tersebut.
Maka bertakwalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala wahai sekalian hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala, lihatlah kepada diri-diri kalian, dan bertaubatlah kepada Rabb kalian, luruskanlah jalan hidup kalian, ketahuilah bahwa bencana dan musibah yang melanda kalian dan kobaran api fitnah yang menyerbu kalian, hanyalah hal itu semua karena sebab diri-diri kalian sendiri, karena sebab dosa-dosa yang kalian perbuat, maka perbaikilah setiap dosa yang kita lakukan dengan taubat dan kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan berlindunglah dari segala fitnah, baik fitnah dunia yang berupa pembunuhan, perampokan, penindasan dan juga fitnah agama yang berupa syubhat dan syahwat yang selalu mencegah manusia dari kembali kepada agamanya yang lurus, dan menjauhkan mereka dari pelita yang dibawa para pendahulu umat yang shaleh.
Sesungguhnya fitnahnya hati itu lebih berbahaya dan lebih jelek serta lebih merusak dari sekedar fitnahnya dunia. Karena fitnah dunia hanya akan berakibat pada kerugian materi dan keduniaan, sedangkan dunia ini akan lenyap dan hilang baik cepat atau lambat, tetapi fitnah agama itulah yang akan menghancurkan dunia dan akhiratnya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
فَاعْبُدُوا مَاشِئْتُم مِّن دُونِهِ قُلْ إِنَّ الْخَاسِرِينَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنفُسَهُمْ وَأَهْلِيهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَلاَّ ذَلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ
Katakanlah: “Sesungguhnya orang-orang yang rugi ialah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarganya pada hari kiamat.” Inagtlah yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (QS. Az-Zumar: 15)
Mudah-mudahan kita selalu dijaga oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dari fitnah dunia dan fitnah agama dan kita dijauhkan dari bala dan musibah yang kian hari seakan musibah itu selalu berganti dan berkepanjangan. Dan mudah-mudahan kita termasuk hamba-hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala yang selalu bertaubat dari perbuatan-perbuatan dosa yang kita lakukan, sehingga kita termasuk orang-orang yang akan mendapatkan pertolongan-Nya baik di dunia dan di akhirat kelak. Amin.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ, اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَ لِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِاْلإِيمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلاَّ لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَحِيمٌ
رَبَّنَا لا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْراً كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلا تُحَمِّلْنَا مَا لا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ, وَأَقِمِ الصَّلاَةَ
***

Keteladanan Abu Bakar

Keteladanan Abu Bakar

KHUTBAH JUM’AT PERTAMA


إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.
يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام َ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا
يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا، أَمّا بَعْدُ …
فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ.
Kaum muslimin yang berbahagia
Pada kesempatan kali ini, khatib akan membahas kepribadian Abu bakar, peran, dan jasanya dalam penyebaran Islam dengan harapan kita bisa mengambil teladan darinya.
Abu Bakar adalah salah satu sahabat yang utama. Beliau terkenal dengan kebaikan, keberanian, kokoh pendirian, selalu memiliki ide-ide cemerlang dalam keadaan genting, banyak tolorensi, penyabar, memiliki azimah (keinginan keras), faqih, paling mengerti dengan garis keturunan Arab dan berita-berita mereka, sangat bertawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan yakin dengan segala janji-Nya, bersifat wara dan jauh dari segala syubhat, zuhud terhadap dunia, selalu mengharapkan seseuatu yang lebih baik di sisi Allah, serta lembut dan ramah, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala meridhainya. Berikut ini khatib terangkan secara rinci hal-hal yang membuktikan sifat-sifat dan akhlaknya yang mulia ini.
Dalil yang menyebutkan bahwa Abu Bakar radhiallahu ‘anhu bersifat zuhud adalah hadis yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dan Abu Dawud, dari Aslam maula Umar radhiallahu ‘anhu, dia berkata,
سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ يَقُوْلُ: أَمَرَنَا رَسُوْلُ اللهِ أَنْ نَتَصَدَّقَ فَوَافَقَ ذلِكَ عِنْدِيْ مَالًا فَقُلْتُ: اَلْيَوْمَ أَسْبِقُ أَبَا بَكْرٍ إِنْ سَبَقْتُهُ يَوْمًا، قَالَ: فَجِئْتُ بِنِصْفِ مَالِيْ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ : مَا أَبْقَيْتَ لِأَهْلِكَ؟ قُلْتُ: مِثْلَهُ، وَأَتَى أَبُوْ بَكْرٍ بِكُلِّ مَا عِنْدَهُ، فَقَالَ: يَا أَبَا بَكْرٍ مَا أَبْقَيْتَ لِأَهْلِكَ؟ قَالَ: أَبْقَيْتُ لَهُمُ اللهَ وَرَسُوْلَهُ. قُلْتُ: وَ اللهِ، لَا أَسْبِقُهُ إِلَى شَيْءٍ أَبَدً
“Saya mendengar Umar bin al-Khaththab berkata, ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan kami untuk bersedekah, dan itu bertepatan ketika saya memang sedang memiliki harta, maka saya berkata (pada diriku), ‘Jika suatu hari saja bisa mengungguli Abu Bakar (dalam kebajikan), maka pada hari inilah saya akan bisa mengunggulinya.’ Umar berkata, ‘Lalu saya membawa setengah hartaku, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, ‘Apa yang kamu tinggalkan untuk keluargamu?’ Saya menjawab, ‘Saya meninggalkan (setengah harta sisa) semisalnya.’ Sedangkan Abu Bakur membawa seluruh harta yang dia miliki. Maka Rasulullah bertanya, ‘Wahai Abu Bakar, apa yang kamu sisakan untuk keluargamu?’ Dia menjawab, ‘Saya menyisakan Allah dan Rasul-Nya untuk mereka.’ Lalu saya berkata, ‘Demi Allah, saya tidak akan mampu mengungguli Abu Bakar sedikit pun, selamanya’.” (HR. Tirmidzi dan Abu Dawud).
Kaum muslimin yang berbahagia
Apa Kedudukan Abu Bakar di sisi Allah?
Abu Bakar adalah Teman Sejati Bagi Rasulullah
Abu Bakar adalah laki-laki yang pertama kali memeluk Islam, walaupun Khadijah lebih dahulu masuk Islam daripadanya. Keislaman Abu Bakar adalah paling banyak membawa manfaat besar terhadap Islam dan kaum muslimin dibandingkan dengan keislaman selainnya, karena kedudukannya yang tinggi dan semangat serta kesungguhannya dalam berdakwah. Dengan keislamannya, maka tokoh-tokoh besar yang masyhur mengikutinya memeluk Islam seperti Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bain Abi Waqqash, Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, dan Thalhah bin Ubaidillah.
Di awal keislamannya dia menginfakkan di jalan Allah harta yang dimilikinya sebanyak 40.000 dirham, dia banyak memerdekakan budak-budak yang disiksa karena keislamannya di jalan Allah, seperti Bilal. Dia selalu mengiringi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selama di Mekah, bahkan dialah yang mengiringi beliau ketika bersembunyi di dalam gua dan dalam perjalanan hijrah hingga sampai di kota Madinah. Di samping itu dia mengikuti seluruh peperangan yang diikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik perang Badar, Uhud, Khandaq, penaklukkan kota Mekah, Hunain, maupun peperangan di Tabuk.
Akhlak Abu Bakar inilah yang membuatnya menjadi sahabat utama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
يَا أَبَا بَكْرٍ، لاَ تَبْكِ إِنَّ أَمَنَّ النَّاسِ عَلَيَّ فِي صُحْبَتِهِ وَمَالِهِ أَبُو بَكْرٍ، وَلَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا مِنْ أُمَّتِيْ خَلِيْلاً لَاتَّخَذْتُ أَبَا بَكْرٍ خَلِيْلاً
Wahai Abu Bakar, jangan menangis! Sesungguhnya orang yang paling besar jasanya padaku dalam persahabatan dan hartanya adalah Abu Bakar, kalau seandainya aku mengambil khalil (sahabat kesayangan) dari umatku, niscaya aku akan menjadikan Abu Bakar sebagai khalilku.” (HR. Bukhari)
Diriwyatkan dari Ibnu Umar dia berkata, “Kami selalu membanding-bandingkan para sahabat di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka kami sepakat memilih Abu Bakar yang paling utama, kemudian Umar, selanjutnya Utsman bin Affan.”
Diriwayatkan dari Muhammad bin al-Hanafiyyah, dia berkata, “Aku bertanya kepada ayahku (Ali bin Abi Thalib) siapa orang yang paling baik setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?” Maka beliau menjawab “Abu Bakar!” Kemudian aku tanyakan lagi, “Siapa setelahnya?” Beliau menjawab, “Umar.” Dan aku takut jika dia menyebut Utsman sesudahnya, maka aku katakan, “Setelah itu pasti Anda.” Namun menjawab, “Aku hanyalah salah seorang dari kaum muslimin.”
Kaum muslimin rahimakumullah,
Apa Kelebihian Abu Bakar?
Sahabat yang Palign Banyak Ilmunya
Abu Sa’id al-Khudri berkata, “Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah di hadapan para sahabat, dan berkata,
إِنَّ اللهَ خَيَّرَ عَبْدًا بَيْنَ الدُّنْيَا وَبَيْنَ مَا عِنْدَهُ فَاخْتَارَ ذَلِكَ الْعَبْدُ مَا عِنْدَ اللهِ
Sesungguhnya Allah telah menyuruh seorang hamba untuk memilih antara dunia atau memilih sesuatu yang ada di sisiNya, namun ternhyat ahamba tersebut memilih sesuatu yang di sisi Allah.” (HR. Bukhari).
Abu Sa’id berkata, “Maka Abu Bakar menangis, kami heran kenapa beliau menangis padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hanyalah menceritakan seorang hamba yang memilih kebikan. Akhirnya kami mengetahui bahwa hamba tersebut ternyata tidak lain adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri, dan Abu Bakarlah yang paling mengerti serta berilmu di antara kami.” Abu Bakar menangis tidak lain karena beliau mengetahui bahwa ajal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah dekat, sehingga hal itu membuatnya bersedih. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ مِنْ أَمَنِّ النَّاسِ عَلَيَّ فيِ صُحْبَتِهِ وَمَالِهِ أَبُوْ بَكْرٍ لَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا خَلِيْلاً غَيْرَ رَبِّيْ لَاتَّخَذْتُ أَبَا بَكْرٍ وَلَكِن أُخُوَّةُ الْإِسْلاَمِ وَمَوَدَّتُهُ، لاَ يَبْقَيَنَّ فِي الْمَسْجِدِ بَابٌ إِلاَّ سُدَّ إِلاَّ بَابُ أَبِيْ بَكْرٍ
Sesungguhnya orang yang paling besar jasanya padaku dalam persahabatan dan kerelaan mengeluarkan hartanya adalah Abu Bakar. Andai saja aku diperbolehkan mengangkat seseorang menjadi kekasihku selain Rabbku pastilah aku akan memilih Abu Bakar, namun cukuplah persaudaraan seislam dan kecintaan karenanya. Maka tidak tersisa pintu masjid kecuali tertutup selain pintu Abu Bakar saja.” (HR. Al-Bukhari)
Sikap Abu Bakar Sepeninggal Rasulullah
Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal, kaum muslimin terpecah. Di antara mereka ada yang murtad, ada pula yang tidak percaya dengan berita meninggalnya Rasulullah. Pada saat inilah Abu Bakar tampil untuk menasihati kaum muslimin. Dia berkata,
مَنْ كَانَ يَعْبُدُ مُحَمَّدًا فَإِنَّ مُحَمَّدًا قَدْ مَاتَ وَمَنْ كَانَ يَعْبُدُ اللهَ فَإِنَّ اللهَ حَيٌّ لَا يَمُوْتُ
Barangsiapa yang menyembah Muhammad, maka sesungguhnya Muhammad telah wafat, dan barangsiapa yang menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah itu hidup tidak akan mati.” (HR. Bukhari).
Hadirin sidang Jumat yang dimuliakan Allah
Jasa-Jasa Abu Bakar
Abu Bakar Ash-Shiddiq termasuk sahabat yang pertama kali masuk Islam, dan selalu menyertai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sepanjang hidupnya, baik di Mekah maupun di Madinah. Tidak hanya itu, beliau adalah sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sekaligus teman bermusyawarah dan wazirnya. Di tangannya, para senior sahabat memeluk Islam seperti Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan Thalhah bin Ubaidillah. Abu Bakar selalu setia mendampingi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menghadapi berabgai macam halangan dan rintangan, siap membela beliau dengan sepenuh jiwa, bahkan beliau pula yang telah membebaskan banyak budak-budak yang disiksa karena masuk Islam seperti Bilal, Amir bin Fuhairah, Ummu Ubaisy, Zinnirah, Nahdiyyah dan kedua putrinya, serta budak wanita milik Bani Mu’ammal juga dibebaskan olehnya.
Beliaulah yang menemani Nabi di kala hijrah, dan turut serta dalam setiap peperangan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, seperti Badar, Uhud, Khandaq, Hudaibiyyah, penaklukkan ktoa Mekah, Hunain, Tabuk, dan pertempuran besar lainnya.
Setelah menjabat sebagai khalifah, beliaulah yang bertugas dan bertanggung jawab terhadap seluruh Negeri Islam dan wilayah kekhalifahannya sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka tercatat sejumlah reputasi beliau yang gemilang, di antaranya:
  1. Instruksinya agar jenazah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diurus hingga dikebumikan.
  2. Melanjutkan misi pasukan yang dipimpin Usamah yang sebelumnya telah dipersiapkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum wafat.
  3. Kebijakannya menyatukan persepsi seluruh sahabat untuk memerangi kaum murtad dengan segala persiapannya ke arah itu kemudian instruksinya untuk memerangi seluruh kelompok yang murtad di wilayah masing-masing.
  4. Ibnu Katsir berkata, “Pada tahun 12 H, Abu Bakar Ash-Shiddiq memerintahkan Zaid bin Tsabit agar mengumpulkan Alquran dari berbagai tempat penulisan, baik yang ditulis di kulit-kulit, dedaunan, maupun yang dihafal dalam dada kaum muslimin. Peristiwa itu terajdi setelah pari Qari (penghafal Alquran) banhyak yang terbunuh dalam peperangan Yamamah, sebagaimana yang disebutkan dalam kitab Shahih al-Bukhari. Imam al-Bukhari berkata, Bab Pengumpulan Alquran, kemudian dia mulai menyebutkan sanadnya hingga sampai kepada Ibnu Syihab dari Ubaid bin Sabbaq, bahwa Zaid bin Tsabit pernah berkata, ‘Abu Bakar ash-Shiddiq mengirim surat kepadaku tentang orang-orang yang terbunuh di perang Yamamah, ketika aku mendatanginya, aku mendapati Umar bin Khaththab berada di sampingnya, maka Abu Bakar berkata, ‘Umar mendatangiku dan berkata, ‘Sesungguhnya banyak para Qurra’ (penghafal Alquran) yang telah gugur dalam peperangan Yamamah. Aku takut jika para Qari yang masih hidup kelak terbunuh dalam peperangan, akan mengakibatkan hilangnya sebagian besar dari ayat Alquran, menurut pendapatku, engkau harus menginstruksikan agar mereka mengumpulkan dan membukukan Alquran’.”
Aku bertanya kepada Umar, “Bagaimana aku melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?” Umar menjawab, “Demi Allah, ini adalah kebaikan!” Dan Umar terus menuntutku hingga Allah melapangkan dadaku untuk segera melaksanakannya, akhirnya aku pun setuju dengan pendapat Umar.
Zaid bin Tsabit berkata, “Kemudian Abu Bakar berkata padaku, “Engkau adalah seorang pemuda yang jenius, berakal, dan penuh amanah, dan engkau telah terbiasa menulis wahyu untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka carilah seluruh ayat Alquran yang berserakan dan kumpulkanlah.” Zaid berkata, “Demi Allah, jika mereka memerintahkan aku memikul gunung tentulah lebih ringan bagiku daripada melaksanakan instruksi Abu Bakar agar aku mengumpulkan Alquran.”
Aku bertanya, “Bagaimana kalian melakukan suatu perbuatan yang tidak diperbuat oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?” Dia berkata, “Demi Allah, ini adalah suatu kebaikan!” Dan Abu bakar terus berusaha meyakinkanku hingga akhirnya Allah melapangkan dadaku untuk menerimanya sebagaimana Allah melapangkan dada mereka berdua .”
Maka aku mulai mengumpulkan tulisan-tulisan Alquran yang ditulis di daun-daunan, kulit, maupun dari hafalan para penghafal Alquran, hingga akhirnya aku menemukan akhir surat at-Taubah yang ada pada Abu Khuzaimah al-Anshari, yang tidak aku dapatkan dari selainnya, yaitu ayat:
لَقَدْ جَآءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَاعَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ {128} فَإِن تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِيَ اللهُ لآَإِلَهَ إِلاَّهُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ {129}
Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, penderitaanmu terasa berat olehnya, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. Jika mereka berpaling dan keimanan, amaka katakanlah, ‘Cukuplah Allah bagiku. Tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Hanya kepadaNya aku bertawakal, dan Dia Rabb yang memiliki Arsy yang agung’.” (QS. At-Taubah: 128-129)
Kemudian Alquran yang telah dikumpulkan dan dibukukan itu disimpan oleh Abu Bakar hingga Allah mewafatkannya. Setelah itu berpindah ke tangan Umar sewaktu hidupnya, dan akhirnya berpindah ke tangan Hafshah binti Umar.
فَاسْتَبِقُواْ الْخَيْرَاتِ أَقُوْلُ قَوْلِي هَذا أَسْتَغْفِرُ اللهَ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ

KHUTBAH JUM’AT KEDUA

نّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا
Kaum muslimin yang dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala
Marilah kita meneladani keteguhan Abu Bakar dalam menegakkan Islam. Dia memiliki karakter seorang muslim sejati yang menjadikannya dicintai oleh Rasul-Nya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
يَاأَيُّهاَ الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepadaNya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragam Islam.” (QS. Ali Imran: 102)
للَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
Akhirnya, marilah kita berdoa kepada Allah Ta’ala, agar menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang mempunyai hati yang selamat.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَصَلىَّ اللهُ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ تَسْلِيمًا كَثِيرًا وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ اْلحَمْدُ لِلهِ رَبِّ اْلعَالمَينَ.

Selasa, 17 Januari 2012

ISRA' MI'RAJ: "Mu'jizat, Salah Tafsir, dan Makna Pentingnya"


Bismillahirrahmanirrahim
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
=============ooo=============

Dalam memperingati isra' dan mi'raj sering kita diajak oleh pembicara pengajian akbar melanglang buana sampai ke langit, dan kadang-kadang dibumbui dengan analisis yang nampaknya berdasar sains. Padahal seyogyanya, aspek astronomis sama sekali tidak ada dalam kajian isra' mi'raj.

Tulisan ini saya maksudkan untuk mendudukkan masalah isra' mi'raj sebagai mana adanya yang diceritakan di dalam Al-Qur'an dan hadits-hadits sahih. Untuk itu pula akan kita ulas kesalahpahaman yang sering terjadi dalam mengaitkan isra' mi'raj dengan kajian astronomi. Inilah makna penting isra' mi'raj yang mestinya kita tekankan.

Kisah dalam Al-Qur'an dan Hadits
Di dalam QS. Al-Isra':1 Allah menjelaskan tentang isra':
"Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad SAW) pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."

Dan tentang mi'raj Allah menjelaskan dalam QS. An-Najm:13-18:
"Dan sesungguhnya dia (Nabi Muhammad SAW) telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, di Sidratul Muntaha. Di dekat (Sidratul Muntaha) ada syurga tempat tinggal. (Dia melihat Jibril) ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh suatu selubung. Penglihatannya tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar."

Sidratul muntaha secara harfiah berarti 'tumbuhan sidrah yang tak terlampaui', suatu perlambang batas yang tak seorang manusia atau makhluk lainnya bisa mengetahui lebih jauh lagi. Hanya Allah yang tahu hal-hal yang lebih jauh dari batas itu. Sedikit sekali penjelasan dalam Al-Qur'an dan hadits yang menerangkan apa, di mana, dan bagaimana sidratul muntaha itu.

Kejadian-kejadian sekitar isra' dan mi'raj dijelaskan di dalam hadits- hadits nabi. Dari hadits-hadits yang sahih, didapati rangkaian kisah-kisah berikut. Suatu hari malaikat Jibril datang dan membawa Nabi, lalu dibedahnya dada Nabi dan dibersihkannya hatinya, diisinya dengan iman dan hikmah. Kemudian didatangkan buraq, 'binatang' berwarna putih yang langkahnya sejauh pandangan mata. Dengan buraq itu Nabi melakukan isra' dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsha (Baitul Maqdis) di Palestina.

Nabi SAW salat dua rakaat di Baitul Maqdis, lalu dibawakan oleh Jibril segelas khamr (minuman keras) dan segelas susu; Nabi SAW memilih susu. Kata malaikat Jibril, "Engkau dalam kesucian, sekiranya kau pilih khamr, sesatlah ummat engkau."
Dengan buraq pula Nabi SAW melanjutkan perjalanan memasuki langit dunia. Di sana dijumpainya Nabi Adam yang dikanannya berjejer para ruh ahli surga dan di kirinya para ruh ahli neraka. Perjalanan diteruskan ke langit ke dua sampai ke tujuh. Di langit ke dua dijumpainya Nabi Isa dan Nabi Yahya. Di langit ke tiga ada Nabi Yusuf. Nabi Idris dijumpai di langit ke empat. Lalu Nabi SAW bertemu dengan Nabi Harun di langit ke lima, Nabi Musa di langit ke enam, dan Nabi Ibrahim di langit ke tujuh. Di langit ke tujuh dilihatnya baitul Ma'mur, tempat 70.000 malaikat salat tiap harinya, setiap malaikat hanya sekali memasukinya dan tak akan pernah masuk lagi.

Perjalanan dilanjutkan ke Sidratul Muntaha. Dari Sidratul Muntaha didengarnya kalam-kalam ('pena'). Dari sidratul muntaha dilihatnya pula empat sungai, dua sungai non-fisik (bathin) di surga, dua sungai fisik (dhahir) di dunia: sungai Efrat dan sungai Nil. Lalu Jibril membawa tiga gelas berisi khamr, susu, dan madu, dipilihnya susu. Jibril pun berkomentar, "Itulah (perlambang) fitrah (kesucian) engkau dan ummat engkau." Jibril mengajak Nabi melihat surga yang indah. Inilah yang dijelaskan pula dalam Al-Qur'an surat An-Najm. Di Sidratul Muntaha itu pula Nabi melihat wujud Jibril yang sebenarnya.

Puncak dari perjalanan itu adalah diterimanya perintah salat wajib. Mulanya diwajibkan salat lima puluh kali sehari-semalam. Atas saran Nabi Musa, Nabi SAW meminta keringanan dan diberinya pengurangan sepuluh- sepuluh setiap meminta. Akhirnya diwajibkan lima kali sehari semalam. Nabi enggan meminta keringanan lagi, "Saya telah meminta keringan kepada Tuhanku, kini saya rela dan menyerah." Maka Allah berfirman, "Itulah fardlu-Ku dan Aku telah meringankannya atas hamba-Ku."

Urutan kejadian sejak melihat Baitul Ma'mur sampai menerima perintah salat tidak sama dalam beberapa hadits, mungkin menunjukkan kejadian- kajadian itu serempak dialami Nabi. Dalam kisah itu, hal yang fisik (dzhahir) dan non-fisik (bathin) bersatu dan perlambang pun terdapat di dalamnya. Nabi SAW yang pergi dengan badan fisik hingga bisa salat di Masjidil Aqsha dan memilih susu yang ditawarkan Jibril, tetapi mengalami hal-hal non-fisik, seperti pertemuan dengan ruh para Nabi yang telah wafat jauh sebelum kelahiran Nabi SAW dan pergi sampai ke surga. Juga ditunjukkan dua sungai non-fisik di surga dan dua sungai fisik di dunia. Dijelaskannya makna perlambang pemilihan susu oleh Nabi Muhammad SAW, dan menolak khamr atau madu. Ini benar-benar ujian keimanan, bagi orang mu'min semua kejadian itu benar diyakini terjadinya. Allah Maha Kuasa atas segalanya.

"Dan (ingatlah), ketika Kami wahyukan kepadamu: "Sesungguhnya (ilmu) Tuhanmu meliputi segala manusia". Dan Kami tidak menjadikan pemandangan yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia...." (QS. 17:60).
"Ketika orang-orang Quraisy tak mempercayai saya (kata Nabi SAW), saya berdiri di Hijr (menjawab berbagai pertanyaan mereka). Lalu Allah menampakkan kepada saya Baitul Maqdis, saya dapatkan apa yang saya inginkan dan saya jelaskan kepada mereka tanda-tandanya, saya memperhatikannya...." (HR. Bukhari, Muslim, dan lainnya).

Hakikat Tujuh Langit
Peristiwa isra' mi'raj yang menyebut-nyebut tujuh langit mau tak mau mengusik keingintahuan kita akan hakikat langit, khususnya berkaitan dengan tujuh langit yang juga sering disebut-sebut dalam Al-Qur'an.

Bila kita dengar kata langit, yang terbayang adalah kubah biru yang melingkupi bumi kita. Benarkah yang dimaksud langit itu lapisan biru di atas sana dan berlapis-lapis sebanyak tujuh lapisan? Warna biru hanyalah semu, yang dihasilkan dari hamburan cahaya biru dari matahari oleh partikel-partikel atmosfer. Langit (samaa' atau samawat) berarti segala yang ada di atas kita, yang berarti pula angkasa luar, yang berisi galaksi, bintang, planet, batuan, debu dan gas yang bertebaran. Dan lapisan-lapisan yang melukiskan tempat kedudukan benda-benda langit sama sekali tidak ada.
Bilangan 'tujuh' sendiri dalam beberapa hal di Al-Qur'an tidak selalu menyatakan hitungan eksak dalam sistem desimal. Di dalam Al-Qur'an ungkapan 'tujuh' atau 'tujuh puluh' sering mengacu pada jumlah yang tak terhitung. Misalnya, di dalam Q.S. Al-Baqarah:261 Allah menjanjikan:

"Siapa yang menafkahkan hartanya di jalan Allah ibarat menanam sebiji benih yang menumbuhkan TUJUH tangkai yang masing-masingnya berbuah seratus butir. Allah MELIPATGANDAKAN pahala orang-orang yang dikehendakinya...."
Juga di dalam Q.S. Luqman:27:
"Jika seandainya semua pohon di bumi dijadikan sebagai pena dan lautan menjadi tintanya dan ditambahkan TUJUH lautan lagi, maka tak akan habis Kalimat Allah...."
Jadi 'tujuh langit' lebih mengena bila difahamkan sebagai tatanan benda-benda langit yang tak terhitung banyaknya, bukan sebagai lapisan-lapisan langit.

Lalu, apa hakikatnya langit dunia, langit ke dua, langit ke tiga, ... sampai langit ke tujuh dalam kisah isra' mi'raj? Mungkin ada orang mengada-ada penafsiran, mengaitkan dengan astronomi. Para penafsir dulu ada yang berpendapat bulan di langit pertama, matahari di langit ke empat, dan planet-planet lain di lapisan lainnya. Kini ada sembilan planet yang sudah diketahui, lebih dari tujuh. Tetapi, mungkin masih ada orang yang ingin mereka-reka. Kebetulan, dari jumlah planet yang sampai saat ini kita ketahui, dua planet dekat matahari (Merkurius dan Venus), tujuh lainnya --termasuk bumi-- mengorbit jauh dari matahari. Nah, orang mungkin akan berfikir langit dunia itulah orbit bumi, langit ke dua orbit Mars, ke tiga orbit Jupiter, ke empat orbit Saturnus, ke lima Uranus, ke enam Neptunus, dan ke tujuh Pluto. Kok, klop ya. Kalau begitu, Masjidil Aqsha yang berarti masjid terjauh dalam QS. 17:1, ada di planet Pluto.

Dan Sidratul Muntaha adalah planet ke sepuluh yang tak mungkin terlampaui. Jadilah, isra' mi'raj dibayangkan seperti kisah Science Fiction, perjalanan antar planet dalam satu malam. Na'udzu billah mindzalik.

Saya berpendapat, pengertian langit dalam kisah isra' mi'raj bukanlah pengertian langit secara fisik. Karena, fenomena yang diceritakan Nabi pun bukan fenomena fisik, seperti perjumpaan dengan ruh para Nabi. Langit dan Sidratul Muntaha dalam kisah isra' mi'raj adalah alam ghaib yang tak bisa kita ketahui hakikatnya dengan keterbatasan ilmu manusia. Hanya Rasulullah SAW yang berkesempatan mengetahuinya. Isra' mi'raj adalah mu'jizat yang hanya diberikan Allah kepada Nabi Muhammad SAW.

Makna pentingnya
Bagaimanapun ilmu manusia tak mungkin bisa menjabarkan hakikat perjalanan isra' mi'raj. Allah hanya memberikan ilmu kepada manusia sedikit sekali (QS. Al-Isra: 85). Hanya dengan iman kita mempercayai bahwa isra' mi'raj benar-benar terjadi dan dilakukan oleh Rasulullah SAW. Rupanya, begitulah rencana Allah menguji keimanan hamba-hamba-Nya (QS. Al-Isra:60) dan menyampaikan perintah salat wajib secara langsung kepada Rasulullah SAW.

Makna penting isra' mi'raj bagi ummat Islam ada pada keistimewaan penyampaian perintah salat wajib lima waktu. Ini menunjukkan kekhususan salat sebagai ibadah utama dalam Islam. Salat mesti dilakukan oleh setiap Muslim, baik dia kaya maupun miskin, dia sehat maupun sakit. Ini berbeda dari ibadah zakat yang hanya dilakukan oleh orang-orang yang mampu secara ekonomi, atau puasa bagi yang kuat fisiknya, atau haji bagi yang sehat badannya dan mampu keuangannya.

Salat lima kali sehari semalam yang didistribusikan di sela-sela kesibukan aktivitas kehidupan, mestinya mampu membersihkan diri dan jiwa setiap Muslim. Allah mengingatkan:
"Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur'an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Ankabut:45)


Sabar dan shalat

Andai kita tarik garis merahnya, ada beberapa urutan dalam perjalanan Rasulullah SAW ini. Pertama, adanya penderitaan dalam perjuangan yang disikapi dengan kesabaran. Kedua, kesabaran yang berbuah balasan dari Allah berupa perjalanan Isra Mi'raj dan perintah shalat. Dan ketiga, shalat menjadi senjata bagi Rasulullah SAW dan kaum Muslimin untuk bangkit dan merebut kemenangan. Ketiga hal ini terangkum dengan sangat indah dalam Alquran,

"Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk. (Yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya." (QS Al-Baqarah [2]: 45-46).

Wallahu a'lam bish-shawab.
--------------------------------------------------------------

(Ucapan terimakasih untuk bapak T. Djamaluddin selaku peneliti bidang matahari & lingkungan antariksa, Lapan, Bandung atas tulisannya yang saya jadikan referensi untuk para pembaca sekalian)


Barakallahufiikum... Semoga Bermanfaat
Banyak sayang dan cinta
Wassalamualaikum

Larangan Menggambar Makhluk Bernyawa

Bismillaahirrahmaanirrahiim
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
-------------------------------------------------------

Dari Abu Hurairah R.a, dia berkata, saya mendengar kekasihku Rasulullah saw bersabda, bahwa Allah berfirman:
" Siapakah orang yang lebih dzalim daripada orang yg membuat ( menggambar ) apa-apa yg menyerupai ciptaanKU? Jika sekiranya mereka mampu, hendaklah mereka menciptakan dzarrah ( biji sawi ), atau benih, atau sebutir gandum" (HR.Bukhari ).

Sahabat2 RDM yg dimuliaan Allah..
Tafsir hadist diatas menjelaskan kepada kita tentang HARAM nya menggambar atau membuat bentuk dari obyek yg menyerupai makhluk Allah yg bernyawa.

Diriwayatkan pula dari Ibnu Abbas dalam hadist Marfu', bahwa nabi bersabda: " Setiap tukang gambar berada di neraka. Akan diciptakan untuknya ( dari ) setiap gambar yg dia buat sebuah nyawa, lalu dia diseret dan disiksa di neraka jahanam karenanya".

Di hadist lain Ibnu Abbas juga berkata," JIka tidak ada jalan lain kecuali kamu harus menggambar, maka gambarlah pepohonan atau sesuatu yg tidak bernyawa". ( HR.Muslim )

Kemudian Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Munajjid menerangkan: " Hadist ini  merupakan dalil yg kuat atas haramnya menggambar sesuatu yg memiliki nyawa, baik itu manusia ataupun hewan, yg memiliki bayangan atau tidak.
Gambar yg dimaksud dalam hadist inipun bersifat umum, baik berupa cetakan dengan tangan biasa atau mesin modern, baik yg berbentuk relief, ukiran, pahatan, cetakan, maupun patung yg dibuat dgn cetakan, semuanya hukumnya HARAM !".

Sahabat-sahabat RDM yg budiman..
Kita semua sebagai seorang muslim dan muslimah yg baik adalah sudah seyogyanya patuh dan taat kepada ketentuan nash syariat. Hukum alquran dan hadist2 shahih nabi adalah kebenaran mutlak. Kita sebagai muslim yg beriman tidak akan membantah keterangan diatas misalnya dengan mengatakan," Saya 'kan tidak menyembah atau bersujud kepada gambar2 itu..?".

Seandainya orang yg berakal mau sdikit berpikir dan merenungkan satu saja dari beredarnya gambar2 tersebut pada saat ini, insaallah dia kan mengetahui hikmah dibalik diharamkannya gambar2 tersebut didalam islam. Seharusnya seorang muslim tidak akan menyimpan gambar2 makhluk bernaywa dirumahnya. Karena diantara akibatnya adalah malaikat enggan masuk kedalam rumah.

Rasulullah Saw bersabda," Malaikat tidak akan masuk kedalam rumah yg didalamnya terdapat anjing dan gambar2 ( makhluk yg bernyawa ). ( HR.Bukhari ).

Sebagian ulama berpendapat bahwa malaikat yg dimaksud adalah malaikat pembawa rahmat, yang tugasnya adalah membagi-bagikan rahmat dari Allah kepada hamba2Nya setiap hari.

Dirumah sebagian kaum muslimin sekarang ini, kita dapat menyaksikan banyak patung2 dan gambar2 tersebut, bahkan sebagian adalah patung dan gambar sesembahan orang2 kafir. Mereka mengira bahwa gambar dan patung tersebut adalah koleksi barang antik mereka atau sebagai hiasan.

Hukum haramnya patung tentu lebih keras dari yang lainnya. Dan haramnya gambar yg digantung dirumah ( di dinding dan lain sebagainya) lebih keras dari yg tidak digantung.
Berapa banyak gambar yg menyebabkan pengkhultusan. Berapa banyak gambar yg kemudian berakibat pada sikap saling menyombongkan diri atas harta mereka, yaitu dengan  memajang gambar2 mewah di dinding yg akan menaikkan prestise dan gengsi serta status sosial di masyarakat.

Ada yg mengatakan bahwa gambar2 tersebut ( seperti foto ) sebagai kenangan. Ini pendapat yang tidak benar, sebab tempat mengenang atau menjadikan memori, misalnya keluarga dan saudara sesama muslim, adalah menyimpannya di HATI, yaitu dengan mendoakan mereka agar diampuni Allah dan mendapatkan rahmatNya. Bukan dengan memajang foto2 pernikahan, foto tamasya, dan gambar2 bernyawa, dll dan digantung di dinding.

Oleh sebab itu, setiap gambar makhluk bernyawa sebaiknya dikeluarkan dari rumah atau dihancurkan. KECUALI gambar2 yg memang sulit utk dihilangkan seperti gambar yg ada dalam buku2 kamus atau buku2 umum, buku2 referensi, dan buku2 yg ada manfaatnya didalamnya. Jika memungkinkan, sebaiknya dikeluarkan dan dihancurkan saja gambar2 kotor terutama yg jauh dari akhlak islami, seperti poster2 artis barat setengah telanjang yg di pajang di kamar2 para pemuda, poster dan foto2 para bintang film dalam dan luar negeri yg terkesan berpakaian seronok, dll.

Dan saran saya, sebaiknya foto2 keluarga seperti foto pernikahan atau foto tamasya keluarga tidak dipajang didinding tetapi disimpan saja di almari atau diletakkan di tempat khusus, sehingga kita bisa melihatnya bilamana perlu.
Dibolehkan untuk menyimpan gambar2 yg amat dibutuhkan seperti misalnya foto identitas dalam KTP, SIM, dll. Ada juga sebagian ulama yg membolehkan gambar2 tersebut yang ada di perabot rumah tangga seperti karpet, alat-alat dapur, atau alas karpet utk alas lantai ( yg dinjak kaki ).

Sahabat RDM yg dimuliakan Allah..
Demikian sedikit dari saya. Ambillah yg baik dan buanglah yg buruk.
Afwan jiddan jika ada kata2 yg tidak berkenan, semua hanya demi kebaikan semata.
Dan mohon maaf, nantinya saya TIDAK AKAN melayani debat dari note ini.
TIDAK MELAYAN PERDEBATAN..TIDAK MELAYANI PERDEBATAN.

Barakallahufikum..silahkan di SHARE jika bermanfaat,
Banyak sayang dan Cinta,
Wassalamualaikum..
============


Ref: 40 Rahasia Hadist Qudsi dan Dzikir ( Aid Al-Qarni )

RENUNGAN : Tiga Fase Keteguhan Seorang Mukmin ( Tentang Azab Kubur )

Bismillaahirrahmaanirrahiim
Assalamualikum warahmatullahi wabarakatuh
-----------------------------------------------------


Dari Barrak bin 'Azib, Nabi saw bersabda, Ketika orang Islam ditanya dalam kubur maka mengakui tiada Tuhan yang lain kecuali Allah dan Nabi Muhammad adalah hamba dan utusanNya. Firman Allah: "Allah mengokohkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam hidupnya di dunia dan akhirat." (QS Ibrahim:27)

Keteguhan orang mukmin akan dialami dalam menghadapi tiga fase.
Rincian dari fase-fase tersebut adalah sebagai berikut:

1. Melihat malaikat maut
   * Terpelihara dari kekafiran dan istiqamah dalam tauhid sehingga saat nyawanya keluar dia tetap dalam keadaan Islam.
   * Malaikat menyenangkan dirinya dengan rahmat.
   * Ditujukkan tempat kediaman surganya.

2. Menjawab pertanyaan Munkar-Nakir
   * Jawaban dengan ilham yang diridlai Allah.
   * Tiada rasa gentar ataupun takut.
   * Tidak berada dalam kubur tetapi dalam kebun surga.

3. Perhitungan amal (yaumul hisab)
   * Semua pertanyaan dijawab benar dengan ilham Allah
   * Perhitungannya ringan dan mudah.
   * Semua dosa dan kesalahannya diampuni.

Namun beberapa ulama menyatakan bahwa fase-fase tersebut terdiri dari empat, yaitu maut, kubur, perhitungan, dan fase shirat (meniti jembatan dengan secepat kilat).

Pertanyaan dalam kubur.

Seandainya orang bertanya mengenai pertanyaan-pertanyaan dalam kubur seperti apakah bentuknya. Maka berikut adalah beberapa pendapat ulama:
* Setengahnya menyatakan bahwa pertanyaan ditujukan pada ruh   (jiwanya). Ketika itu jiwa masuk raga namun hanya sampai di dada.
* Setengah lainnya mengatakan bahwa ruh berada di antara raga dan kafan pembungkus.

Pertanyaan-pertanya an dalam kubur hendaknya diterima dengan penuh iman tanpa banyak perdebatan tentang tata caranya. Umumnya ada dua faktor  penyebab mengapa orang dapat membantah mengenai pertanyaan dalam kubur tersebut, yakni:

* Pernyataan kubur tidak masuk akal karena bertentangan dengan sunnatullah (hukum alam).
* Tidak adanya bukti atau dalil bahwa pertanyaan kubur diterima akal sehat dan sejalan dengan hukum alam.

Kemudian jika kedua faktor tersebut dijadikan sebagai titik tolak untuk membantah ataupun menolak mengenai adanya pernyataan dalam kubur. Hal ini berarti dia bukanlah orang yang beragama. Karena orang yang beragama Islam yang beriman, dituntut oleh imannya untuk mengakui adanya kenabian dan mukjizat. Para Nabi mulai dari Adam as. hingga Muhammad saw. adalah manusia biasa dan berperilaku serupa. Tetapi mereka memiliki berbagai keistimewaan yang bertentangan dengan sunnatullah. Bukan hanya mukjizat seperti tongkat yang berubah menjadi ular, tongkat yang membelah lautan, tongkat yang menyemburkan mata air dari batu oleh Nabi Musa as, api yang mendingin bagi Nabi Ibrahim as.,maupun kemampuan menghidupkan orang mati bagi Nabi Isa.

Kesemua mukjizat tersebut tidak ada yang mampu dinalar oleh akal manusia. Bahkan kenabian pun bertentangan dengan hukum alam karena wahyu yang  mereka terima terkadang langsung dari Allah swt lewat mimpi
ataupun lewat perjumpaan dengan malaikat. Tidak semua manusia mampu menerima wahyu, bahkan harusnya binasa jika mengikuti hukum alam. Tetapi para Nabi adalah manusia terpilih, kuat dan tangguh. Mengenai bukti atau  dalil tentang adanya pertanyaan kubur sudah cukup memadai dari hadits-hadits Nabi yang termuat dalam kitab ini. Hal tersebut merupakan landasan kuat untuk berpijak bagi orang yang mau beriman.

Firman Allah: "Barangsiapa berpaling dari peringatanKu, maka penghidupan yang sempit akan menimpanya (termasuk siksa--atau berupa pertanyaan dalam kubur menurut penafsiran para ahli tafsir) dan kelak di hari Kiamat Kami akan kelompokkan mereka dalam keadaanbuta." (QS Thaahaa: 124)

Adapun bukti ataupun dalil mengenai hal itu bisa kita dapatkan dari firman Allah dalam al-Qur'an surat Ibrahim ayat 27 yang telah tertera di atas. Penjelasan dalam hadits antara lain sebagai berikut. Abu Laits as-Samarqandiy meriwayatkan dari Said ibn Musayyah, dari Umar ra., Nabi saw bersabda, "Ketika mukmin masuk kubur, datanglah dua malaikat untuk mengujinya, mendudukkan dan mengajukan pertanyaan kepadanya. Padahal ia masih
mendengar suara sandal pengantarnya yang pulang dari melawat jenazah tersebut. Lalu kedua malaikat bertanya, "Siapa Tuhanmu? Apa agamamu? dan siapa nabimu?" Jawabnya, "Allah Tuhanku, Islam agamaku dan Nabi Muhammad saw nabiku."

Kata kedua malaikat, "Yang mengokohkanmu pada ucapan itu adalah Allah dan kamu boleh tidur nyenyak."
Demikian arti firman Allah (QS Ibrahim: 27). Bagi mereka yang aniaya, Allah tidak memberi petunjuk dengan taufikNya dan disesatkan. Sehingga ketika mereka menerima pertanyaan dari malaikat tentang ketiga hal di atas, mereka menjawab dengan, "Tidak tahu." Menerima jawaban tersebut, kedua malaikat berkata, "Tidak tahu? Terimalah pukulan gada ini!" Maka dengan pukulan tersebut sang jenazah menjerit hingga semua makhluk mendengarnya kecuali manusia dan jin.

Dari Abu Hazim, dari Ibnu Umar ra., Rasul saw bersabda, "Wahai Umar, apa yang kau lakukan ketika malaikat berdua (Munkar-Nakir) datang mengujimu di kubur. Rupa kedua malaikat adalah hitam semu biru, siungnya mengguris bumi, rambutnya panjang dan suaranya sekeras petir. Matanya pun seperti kilat menyambar."
Umar balik bertanya, "Ya Rasul, sadarkan pikiranku saat itu seperti sekarang?" Rasul menjawab, "Ya, kau sadar seperti saat ini."
Umar pun menyahut, "Kalau begitu saya akan atasi keduanya dengan izin Allah swt." Rasul saw pun bersabda, "Umar adalah orang yang diberi taufik (oleh Allah)."

Dari Abu Hurairah, Rasul saw bersabda,
"Setiap jenazah akan mendengkur yang akan terdengar oleh semua hewan kecuali manusia. Jika manusia mendengarnya, maka mereka pasti akan pingsan. Lalu ketika sang jenazah diantar ke pemakaman, ia mengatakan, "Percepat langkahmu, jika kalian tahu balasan amal baik di depanku, pasti kalian akan mempercepatnya. " Hal itu berlaku bagi orang yang baik. Sedangkan bagi orang yang jahat ketika jenazahnya diantar ke pemakaman maka ia berkata, "Tidak perlu terburu-buru. Jika kalian tahu bahaya mencekam di depanku, pastilah kalian akan memperlambat. "

Sesudah masuk kubur datanglah dua malaikat yang hitam semu biru dari arah kepalanya. Lalu ibadah (shalatnya) menolak kedatangan mereka, "Jangan datang dari arahku. Terkadang ia terjaga semalaman mengkhawatirkan hal seperti ini."
Ketika mereka datang dari arah kaki ditolak oleh ketaatan pada kedua orangtuanya, "Jangan lewat arahku.  Karena ia berjalan tegak mengkhawatirkan hal seperti ini."

Kedatangan malaikat dari arah kanan juga ditolak, "Jangan lewat arahku, ia bersedekah, mengkhawatirkan hal seperti ini."
Sedangkan kedatangan  dari arah kiri ditolak oleh amal puasanya, "Jangan melewati aku. Karena ia lapar dan dahaga mengkhawatirkan hal seperti ini."

Kemudian sang jenazah  dibangunkan dan ditanya, "Tahukah orang yang menyampaikan ajaran kepadamu?" Sahutnya, "Siapa dia?" "Yaitu Nabi Muhammad saw."

Jawabnya,"Aku bersaksi bahwa ia Rasul Allah swt." Malaikat berdua berkata, "Kamu hidup menjadi orang mukmin, dan mati sebagai mukmin. Lapanglah kuburnya dan terbukalah karomah Allah baginya. Marilah kita mohon taufik dan benteng dari Allah. Mohon perlindungan dari nafsu sesat lagi menyesatkan serta terlena. Mohon perlindungan dari siksa kubur sebagaimana Nabi saw berlindung darinya."

Dari 'Aisyah ra.:
Semula aku tidak mengerti tentang adanya siksa kubur sampai seorang wanita Yahudi datang minta sesuatu kepadaku. Setelah kuberi sesuatu ia mendoakanku, "Mudah-mudahan Allah menyelamatkan aku dari siksa kubur."
Aku menyangka ucapan tersebut hanyalah tipuan Yahudi hingga akhirnya aku sampaikan hal tersebut pada Nabi saw. Beliau bersabda, "Bahwasanya siksa kubur adalah benar. Setiap muslim harus berlindung darinya, menyiapkan bekal amal baik secukupnya. Karena Allah masih memudahkan amal baik selama ia hidup di dunia. Nanti kalau sudah masuk ke
dalam kubur, amal baik sedikitpun tidak akan diperkenankan Allah.
Sekalipun ia ingin melakukannya, hingga tinggal penyesalan yang tersisa. Maka bagi akal sehat, hendaknya berpikir tentang hal itu (kematian). Mereka yang sudah mati sangat menginginkan (jika dapat) untuk melakukan shalat 2 rakaat, menyebut kalimat 'Laa ilaaha illallaah' sekali, bertasbih sekali. Tetapi semuanya itu tidak diperkenankan. "

Hal ini mengherankan manusia yang masih hidup mengapa hari-hari kehidupan mereka disia-siakan untuk bermain tak berarti dan terlena.

Hai saudaraku, jangan sia-siakan hidupmu karena kehidupanmu adalah pokok kejayaanmu. Kamu dapat dengan mudah mengumpulkan keuntungan sebesar-besarnya jika menghargai pokoknya. Nanti akan tiba saatnya kamu tidak dapat melakukan hal itu karena sudah mati.
Sekalipun kamu menginginkan untuk beriman, beramal dan beribadah kepada Allah
swt.

Akhirnya marilah kita berdoa memohon taufik kepada Allah, mempersiapkan bekal yang mencukupi di waktu sangat hajat agar tidak menyesal di kemudian hari. Memohon agar dimudahkan ketika sakratul maut dan di kubur. Amiiiiiiin.
Bahwasanya Dia Yang Maha Pengasih, Maha Mencukupi dan sebaik-baik Wakil. Tidak ada daya upaya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.

Barakallahufikum..semoga bermanfaat
Banyak sayang dan cinta,
Wassalamualikum
---------------------

Jumat, 13 Januari 2012

Apapun Hajat terbaik anda, berinfaklah secara maksimal lalu berdo'alah


Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu sesungguhnya Nabi Muhammad shollallahu ‘alahi wa sallam bersabda:

“Tidak ada satu subuh-pun yang dialami hamba-hamba Allah kecuali turun kepada mereka dua malaikat.

Salah satu di antara keduanya berdoa: “Ya Allah, berilah ganti bagi orang yang berinfaq”,

sedangkan yang satu lagi berdo’a “Ya Allah, berilah kerusakan bagi orang yang menahan (hartanya)”

(HR Bukhary 5/270)









Terbukti Shadaqah penuh keajaiban...
harta menjadi berkah, berlimpah dan penuh manfaat...
--> Mau sembuh dari sakit, ayo shadaqoh
---> Mau dapat anak, pancing dengan shadaqah
----> Anda mau apa, lakukan shadaqah, lalu mintalah hajat anda pada Allah...

Jangan Kapok harta anda berkurang karena shadaqah...
Makin bertambah harta karena shadaqah, tentu semakin rutin anda shadaqah...

Lakukan dari keluarga terdekat, tetangga dan orang-orang yang ada disekitar anda, semoga menjadi orang yang bermanfaat...

Bahagia dunia akhirat, Ayo Shadaqah.....

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Yang menguasai di Hari Pembalasan Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni'mat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

Ya Allah kabulkanlah do'a kaum muslimin di penjuru bumi..
Ya Allah kabulkanlah do'a-do'a kami...
Ya Allah kami telah berusaha mengorbankan harta kami tuk perjuangan menegakkan kalimat-Mu...
kami korban harta kami tuk menyebarkan nilai-nilai kebaikan ke lebih banyak orang di seluruh penjuru bumi...

Ya Allah sembuhkanlah diantara kami yang sedang sakit, sembuhkanlah keluarga kami, sembuhkanlah tetangga kami, sembuhkanlah teman-teman...
Ya Allah di anatara kami ada yang belum dapat jodoh, pertemukanlah dengan jodoh yang terbaik menurut-Mu
Ya Allah di antara kami ada yang belum memiliki keturunan, berikanlah segera amanah itu,
Ya Allah berilah kami keturunan yang baik dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Mendengarkan do`a.
Ya Allah jadikanlah anak-anak kami, anak2 yang shaleh dan shalehah...

"Wahai Allah limpahkanlah rahmat atas junjungan kita Nabi Muhammad Saw; sebanyak aneka rupa rizqi. Wahai Dzat Yang Maha Meluaskan rizqi kepada orang yang dikehendaki-Nya tanpa hisab. Luaskan dan banyakanlah rizqiku dari segenap setiap penjuru dan perbendaharaan rizqi-Mu tanpa pemberian dari makhluk, berkat kemurahan-Mu jua. Dan limpahkanlah pula rahmat dan salam atas dan para sahabat beliau. "

"Wahai Allah, wahai Dzat Yang Maha Kaya, wahai Dzat Yang Maha Terpuji, wahai Dzat Yang memulai, wahai Dzat Yang Mengembalikan, wahai Dzat Yang Maha Penyayang, wahai Dzat Yang Maha Mencintai. Cukupilah kami dengan kehalalan-Mu dari keharaman-Mu. Cukupilah kami dengan anugerah-Mu dari selain Engkau. Semoga Allah melimpahkan rahmat dan salam atas junjungan kita Nabi Muhammad Saw. keluarga dan sahabat beliau.""Dengan nama Allah, semoga Engkau menjaga diri kami, harta kami dan agama kami. Wahai Allah, ridhailah kami dari ketetapan-Mu dan berilah berkah kepada kami pada segala apa yang telah Engkau putuskan sehingga kami Tidak suka apa yang Engkau mempercepatkan apa yang Engkau akhirkan dan tidak pula menyukai mengakhirkan apa yang, Engkau cepatkan. ""Ya Tuhan, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta selamatkanlah kami dari siksa neraka." (QS. Al-Baqarah: 201).

"Ya Tuhan, janganlah Engka siksa kami karena lupa atau bersalah. Ya Tuhan, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana telah Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami, ampunilah kamj, dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami dalam mengalahkan orang-orang kafir." (QS. Al-Baqarah: 286).

"Ya Tuhan sungguh kami telah mendengar seruan yang menyeru kepada iman: "Barimanlah kamu kepada Tuhanmu, maka kami pun beriman. Ya Tuhan, ampunilah dosa-dosa kami dan hapuskanlah kesalahan-kesalahan kami, serta matikanlah kami beserta orang-orang yang banyak berbuat kebajikan. Ya Tuhan, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul-Mu, dan janganlah Engkau hinakan kami pada hari kiamat nanti. Sungguh Engkau sama sekali tidak akan pernah menyalahi janji." (QS. Âli Imrân: 193-294).

Dia Mencium Bau Surga

Dia Mencium Bau Surga

Di dalam sebuah hadits yang bersumber dari Abu Hurairah rhodiyallaahu ‘anhu, Rasululllah shollallaahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda, " Ada tujuh golongan orang yang mendapat naungan Allah pada hari tiada naungan selain dari naunganNya... diantaranya, seorang pemuda yang tumbuh dalam melakukan ketaatan kepada Allah."
Dan di dalam sebuah hadits shohih yang berasal dari Anas bin an-Nadhr rhodiyallaahu ‘anhu, ketika perang Uhud ia berkata,"Wah .... angin surga, sunguh aku telah mencium wangi surga yang berasal dari balik gunung Uhud."
Seorang Doktor bercerita kepadaku, " Pihak rumah sakit menghubungiku dan memberitahukan bahwa ada seorang pasien dalam keadaaan kritis sedang dirawat. Ketika aku sampai, ternyata pasien tersebut adalah seorang pemuda yang sudah meninggal - semoga Allah merahmatinya -. Lantas bagaimana detail kisah wafatnya. Setiap hari puluhan bahkan ribuan orang meninggal. Namun bagaimana keadaan mereka ketika wafat? Dan bagaimana pula dengan akhir hidupnya?
Pemuda ini terkena peluru nyasar, dengan segera kedua orang tuanya -semoga Allah membalas segala kebaikan mereka- melarikannya ke rumah sakit militer di Riyadh. Di tengah perjalanan, pemuda itu menoleh kepada ibu bapaknya dan sempat berbicara. Tetapi apa yang ia katakan? Apakah ia menjerit dan mengerang sakit? Atau menyuruh agar segera sampai ke rumah sakit? Ataukah ia marah dan jengkel ? Atau apa?

Orang tuanya mengisahkan bahwa anaknya tersebut mengatakan kepada mereka, ‘Jangan khawatir! Saya akan meninggal ... tenanglah ... sesungguhnya aku mencium wangi surga.!' Tidak hanya sampai di sini saja, bahkan ia mengulang-ulang kalimat tersebut di hadapan para dokter yang sedang merawat. Meskipun mereka berusaha berulang-ulang untuk menyelamatkannya, ia berkata kepada mereka, ‘Wahai saudara-saudara, aku akan mati, maka janganlah kalian menyusahkan diri sendiri... karena sekarang aku mencium wangi surga.'
Kemudian ia meminta kedua orang tuanya agar mendekat lalu mencium keduanya dan meminta maaf atas segala kesalahannya. Kemudian ia mengucapkan salam kepada saudara-saudaranya dan mengucapkan dua kalimat syahadat, ‘Asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadar rasulullah' Ruhnya melayang kepada Sang Pencipta subhanahu wa ta'ala.
Allahu Akbar ... apa yang harus aku katakan dan apa yang harus aku komentari...Semua kalimat tidak mampu terucap ... dan pena telah kering di tangan... Aku tidak kuasa kecuali hanya mengulang dan mengingat Firman Allah subhanahu wa ta'ala, " Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan akhirat." (Ibrahim : 27)
Tidak ada yang perlu dikomentari lagi.
Ia melanjutkan kisahnya,
"Mereka membawa jenazah pemuda tersebut untuk dimandikan. Maka ia dimandikan oleh saudara Dhiya' di tempat pemandian mayat yang ada di rumah sakit tersebut. Petugas itu melihat beberapa keanehan yang terakhir. Sebagaimana yang telah ia ceritakan sesudah shalat Magrib pada hari yang sama.
  1. Ia melihat dahinya berkeringat. Dalam sebuah hadits shahih Rasulullaah Shallallaahu ‘alahi wasallam bersabda, "Sesungguhnya seorang mukmin meninggal dengan dahi berkeringat". Ini merupakan tanda-tanda khusnul khatimah.
  2. Ia katakan tangan jenazahnya lunak demikian juga pada persendiannya seakan-akan dia belum mati. Masih mempunyai panas badan yang belum pernah ia jumpai sebelumnya semenjak ia bertugas memandikan mayat. Pada tubuh orang yang sudah meninggal itu (biasanya-red) dingin, kering dan kaku.
  3. Telapak tangan kanannya seperti seorang yang membaca tasyahud yang mengacungkan jari telunjuknya mengisyaratkan ketauhidan dan persaksiannya, sementara jari-jari yang lain ia genggam.
Subhanalllah ... Sungguh indah kematian seperti itu. Kita memohon semoga Allah subhanahu wa ta'ala menganugrahkan kita khusnul khatimah.
Saudara-saudara tercinta ... kisah belum selesai...
Saudara Dhiya' bertanya kepada salah seorang pamannya, apa yang ia lakukan semasa hidupnya? Tahukah anda apa jawabnya?
Apakah anda kira ia menghabiskan malamnya dengan berjalan-jalan di jalan raya?
Atau duduk di depan televisi untuk menyaksikan hal-hal yang terlarang? Atau ia tidur pulas hingga terluput mengerjakan shalat? Atau sedang meneguk khamr, narkoba dan rokok? Menurut anda apa yang telah ia kerjakan? Mengapa ia dapatkan husnul khatimah (insyaAllah -red) yang aku yakin bahwa saudara pembaca pun mengidam-ngidamkann ya; meninggal dengan mencium wangi surga.
Ayahnya berkata, "Ia selalu bangun dan melaksanakan shalat malam sesanggupnya. Ia juga membangunkan keluarga dan seisi rumah agar dapat melaksanakan shalat Shubuh berjama'ah. Ia gemar menghafal al-Qur'an dan termasuk salah seorang siswa yang berprestasi di SMU."
Aku katakan, "Maha benar Allah" yang berfirman (yang artinya-red)
"Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Rabb kami ialah Allah' kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): ‘Janganlah kamu takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.' Kamilah pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari (Rabb) Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Fhushilat:30- 32)
--------
Diambil dari : Serial Kisah Teladan Karya Muhammad bin Shalih Al-Qahthani, sebagaimana yang dinukil dari Qishash wa ‘Ibar karya Doktor Khalid al-Jabir.

Minggu, 01 Januari 2012

Tiga Golongan Perusak Islam

إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.
يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام َ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا
يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا،
أَمّا بَعْدُ فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ.
Jama’ah Jum’ah rahimakumullah, marilah kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah berkenan memberikan berbagai keni’matan bahkan hidayah kepada kita.
Shalawat dan salam semoga Allah tetapkan untuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya, para sahabatnya, dan para pengikutnya yang setia dengan baik sampai akhir zaman.
Jama’ah Jum’ah rahimakumullah, mari kita senantiasa bertaqwa kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa, menjalani perintah-perintah Allah sekuat kemampuan kita, dan menjauhi larangan-laranganNya.
Untuk meningkatkan taqwa, marilah kita merenungkan tentang betapa banyaknya perusakan terhadap Islam. Dalam hal ini mari kita cermati adanya 3 golongan yang merusak Islam.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ (11) أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَكِنْ لَا يَشْعُرُونَ [البقرة/11، 12]
Dan bila dikatakan kepada mereka, "Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi". Mereka menjawab, "Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan."Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar. (QS. Al-Baqarah [2] : 11-12)
Kerusakan yang mereka perbuat di muka bumi bukan berarti kerusakan benda, melainkan menghasut orang-orang kafir untuk memusuhi dan menentang orang-orang Islam.
Imam Al-Baghawi dalam tafsirnya معالم التنزيل (Ma’aalimut Tanziil) menjelaskan: وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ Dan bila dikatakan kepada mereka yaitu kepada orang-orang Munafik, atau dikatakan kepada orang-orang Yahudi. Artinya, kepada mereka (Munafiqin atau Yahudi) itu orang-orang Mu’min berkata: لا تُفْسِدُوا فِي الأرْضِ "Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi” dengan kekafiran dan membengkokkan manusia dari iman kepada Muhammad صلى الله عليه وسلم dan Al-Qur’an. Dan dikatakan (pula), artinya: janganlah kalian kafir, karena kekafiran itu adalah kerusakan paling dahsyat dalam agama.قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَMereka menjawab, "Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan." Mereka menjawab dengan perkataan ini secara dusta, sebagaimana perkataan mereka, kami beriman, sedangkan mereka adalah berdusta.أَلا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَIngatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan terhadap diri mereka sendiri dengan kekafiran dan terhadap manusia dengan membengkokkan dari iman. { وَلَكِنْ لا يَشْعُرُونَ } tetapi mereka tidak sadar, artinya mereka tidak tahu bahwa mereka itu merusak, karena mereka mengira bahwa yang mereka berada pada golongan kekufuran itu adalah baik. Dan dikatakan (maksudnya): mereka tidak menyadari akan adanya adzab yang disediakan Allah untuk mereka. (Tafsir Al-Baghawi/ Ma’aalimut tanziil, juz 1 halaman 66).
Syaikh Al-jazairi dalam tafsirnya, Aisarut Tafaasir mengemukakan, di antara hidayah ayat-ayat ini adalah:
  1. Mencela pengakuan yang dusta, yang pada umumnya mengaku-aku dengan dusta itu tidak terjadi kecuali dari sifat-sifat orang munafiqin.
  2. Berbuat baik di bumi ini adalah dengan berbuat taat kepada Allah dan rasul-Nya. Sedang berbuat kerusakan di bumi adalah dengan bermaksiat kepada Allah dan rasul-Nya صلى الله عليه وسلم.
  3. Para pembuat keruskan di bumi selalu menghalalkan perusakan mereka dengan dalih bahwa mereka berbuat kebaikan, bukan perusakan. (Aisarut Tafaasir oleh Al-Jazaairi, juz 1 halaman 11).
Jama’ah Jum’ah rahimakumullah, Pengakuan yang dusta diiringi penghalalan perbuatan merusak agama itulah dua bahaya sekaligus yang sangat mencelakakan.
Kenapa?
Karena perbuatan itu jelas bukan sekadar untuk diri mereka sendiri namun sasarannya justru para manusia. Ketika mereka melancarkan pengakuan yang dusta, sasarannya agar manusia tertipu. Dan ketika menghalalkan perusakan, agar perusakan itu diikuti, bahkan diterapkan bersama-sama. Padahal ketika diikuti justru kerusakan agama lah yang terjadi, karena telah dibengkokkan, walau masih atas nama agama. Sehingga tampaknya adalah perbaikan (yaitu agama yang lurus), jalan bagi para manusia agar selamat di dunia dan akherat, namun sebenarnya sudah dibengkokkan bahkan telah rusak keyakinannya itu.
Betapa bahayanya!
Satu contoh nyata.
Seorang mahasiswi di Pascasarjana UIN (Universitas Islam Negeri, dahulu IAIN) Syarif Hidayatullah,Jakarta, mengungkapkan sebuah fenomena baru di UIN yang membuatnya terenyuh.
Sebelum menempuh pendidikan di pascasarjana UIN, Mahasiswi ini adalah lulusan UniversitasIndonesia. Fenomena yang dimaksudnya itu, berhubungan dengan masalah penulisan dalam sebuah karya ilmiah. Misalnya, para mahasiswa pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tidak diperkenankan menulis kata Allahdengan lanjutanSWT(subhanahu wa ta’ala); tidak boleh menulis kataMuhammad dengan diakhiriSAW(shallallahu ‘alaihi wa sallam); tidak boleh menulisMuhammaddengan sebutanNabi.
Pelarangan itu menurut ProfDr S yang sehari-hari mengurus kampus pascasarjana UIN, karenayang menganggap Muhammad sebagai Nabi hanya orang Islam, sedangkan non-muslim tidak menganggap Muhammad Nabi. Begitu juga dengan Allah,yang mengakui Allah itu subhanahu wa ta’alahanya orang Islam, sedangkan mereka yang bukan Islam, tidak demikian.
Menurut Mahasiswi ini pula, dalam sebuah karya ilmiah di Pascasarjana UIN tidak boleh ada kalimat-kalimatIslam sebagai agama yang sempurnaatauIslam sebagai agama yang haq, dan kalimat-kalimat sejenis itu. Jika kalimat seperti itu ditemukan di dalam karya ilmiah (makalah, tesis atau disertasi), maka akan langsung dicoret! Mahasiswi pascasarjana UIN ini sangat menyayangkan adanya aturan seperti itu. Apalagi, sepertinya Islam tidak dihargai, namun sebaliknya, pandangan orang-orang kafir menjadi lebih dimuliakan dan dihargai.
Berbagai pertanyaan berkecamuk di dalam benak Mahasiswi ini akibat adanya ketentuan yang tidak lazim tersebut: “… mengapa sebuah universitas Islam yang terkenal menjadi anti-pati terhadap penulisan-penulisan seperti itu? Seolah penulisan seperti itu adalah hal yang memalukan dan aib di hadapan warga dunia. Sejak kapan pelarangan tersebut menjadi peraturan? Apakah ada aturan resminya? Atau ada SK Rektor atau dari Depag (Departemen Agama/ kini Kementerian Agama) ada instruksi demikian? UIN memang memiliki cita-cita besar untuk menjadi universitas internasional, dan saya acungi jempol akan mimpi tersebut. UIN memang ingin karya-karyanya diterima oleh masyarakat dunia, saya tidak menolak harapan tersebut. Tapi kita tidak bisa meninggalkan identitas sebagai Universitas Islam.” Begitu tulis Mahasiswi ini dalam satu situs.kemudian dikutip di situs lain. (http://nahimunkar.com/gejala-bahaya-laten-neo-komunisme-di-uin/)
Jama’ah Jum’ah rahimakumullah, kalau ada waktu, boleh dicari makalah dari pihak petinggi perguruan tinggi Islam itu yang sudah dipublikasikan, niscaya akan menemui “garis kebijakan” yang mengikuti pemikiran pembenci Islam itu. Namun anehnya, tidak terdengar adanya tindakan kongkret yang memberi hukuman terhadap mereka yang jelas-jelas anti Allah SWT dan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk disifati sesuai dengan yang digariskan Allah Ta’ala itu. Sebagaimana tidak ditindaknya oknum-oknum yang sampai menghalalkan pernikahan antara wanita Muslimah dengan lelaki kafir, dan bahkan menghalalkan homo sekalipun. Tidak ditindak dan apalagi dibuang dari perguruan tinggi yang beralbel Islam lagi negeri itu.
Apakah itu berarti bekerjasama dan melindungi dosa dan pelanggaran, atau memang menjalankan misi kemunafikan yang memang “tugasnya” adalah amar munkar nai ma’ruf, yang jelas perlakuan itu semua adalah telah diingatkan dalam ayat-ayat:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ [المائدة/2]
"Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya." (QS Al-Maaidah [5] : 2)
Tentang diamnnya pihak penguasa terhadap kemunkaran yang membahayakan itu apakah artinya kerjasama dan melindungi, yang jelas telah diingatkan dalam ayat:
الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ بَعْضُهُمْ مِنْ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمُنْكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوفِ وَيَقْبِضُونَ أَيْدِيَهُمْ نَسُوا اللَّهَ فَنَسِيَهُمْ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ هُمُ الْفَاسِقُونَ (67) وَعَدَ اللَّهُ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْكُفَّارَ نَارَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا هِيَ حَسْبُهُمْ وَلَعَنَهُمُ اللَّهُ وَلَهُمْ عَذَابٌ مُقِيمٌ [التوبة/67، 68]
"Orang-orang Munafik laki-laki dan perempuan. Sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma'ruf dan mereka menggenggamkan tangannya. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang Munafik itu adalah orang-orang yang fasik. Allah mengancam orang-orang Munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya. Cukuplah neraka itu bagi mereka, dan Allah mela'nati mereka, dan bagi mereka azab yang kekal." (QS. At-Taubah [9] : 67-68)
Jama’ah Jum’ah rahimakumullah, di masyarakat yang justru kemunkaran diusung beramai-ramai dan diketahui secara rahasia umum bahwa itu dilindungi bahkan mungkin dibiayai dan dinaikkan pangkatnya, maka ketika ada petinggi yang secara naluri manusianya berucap mengingatkan agar jangan pakai rok mini, tahu-tahu dia diprotes keras. Bahkan sampai dengan memperagakan pakai rok mini beramai-ramai dan mengecam petinggi yang mengingatkan itu. Padahal dia karena prihatin adanya wanita yang diperkosa bahkan dibunuh dan dirampas hartanya dalam angkutan kota, sedang kejadiannya bukan hanya satu kali dan korbannya pun berjatuhan.
Namun, apa hendak dikata, di negeri yang kemunkaran dimanjakan ini, petinggi itu sampai minta maaf atas nasehatnya yang menginginkan agar tidak pakai rok mini itu. Sedemikian dahsyatnya kekuatan pihak munafiqin dan munafiqot istilah Al-Qur’an dalam memaksakan kemunkaran di negeri ini, sampai seorang petinggi pun harus minta maaf kepada mereka, lalau mereka masih mengatakan tidak cukup hanya minta maaf. Astaghfirulahal ‘adhiem, walaa haula walaa quwwata illaa billaahil ‘aliyyil ‘adhiem.
Padahal, tidak usah mengusung kemunkaran secara ramai-ramai, atau tidak usah membuat keputusan yang akan menghalangi Ummat untuk meyakini Islam (seperti kasus penulisan di paskasarjana tersebut) , ketika berucap yang mengakibatkan murkanya Allah Ta’ala pun sudah ada ancamannya. Sebagaimana ditegaskan dalam hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengancam masuk neraka atas orang yang hanya gara-gara ia mengucapkan satu perkataan.
حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ يَنْزِلُ بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a, ia berkata, "Aku telah mendengar Rasulullah s.a.w bersabda, 'Adakalanya seorang hamba mengucapkan satu kalimah (satu kata) yang menyebabkan dia tergelincir ke dalam Neraka yang jarakdalamnya antara timur dan barat'." (Hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim)
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ لَا يَرَى بِهَا بَأْسًا يَهْوِي بِهَا سَبْعِينَ خَرِيفًا فِي النَّارِ قَالَ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ *.
Dari Abu Hurairah, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda, “Sesungguhnya bisa jadi seseorang mengucapkan suatu perkataan yang disangkanya tidak apa-apa, tapi dengannya justru tergelincir dalam api neraka selama tujuh puluh musim.” (HR. At-Tirmidzi, ia katakan ini hadits hasan gharib dari arah ini, dan Ahmad – 6917)
Jama’ah jum’ah rahimakumullah, kemunkaran dan kemaksiatan yang diusung kemudian dibiarkan bahkan kemungkinan sekali dilindungi itu jelas-jelas membahayakan bagi Ummat Islam. Sehingga maksiat dan aneka kemunkaran justru beretengger di mana-mana dan dapat memaksa siapa saja. Padahal itu kita tahu bahwa memang itu kemunkaran dan kemaksiatan. Itupun ternyata tidak banyak yang berani untuk mengubahnya apalagi memberantasnya. Di sinilah letak di antara ujian bagi Muslimin, siapa sebenarnya yang memegang teguh Islam ini. Sehingga ada bukti-bukti dalam amaliahnya dalam membela Islam.
Jama’ah Jum’ah rahimakumullah, kondisi perusakan Islam yang tampak seperti itu, sangat memprihatinkan. Dan orang mudah mengerti serta faham bahwa itu munkar, buruk, dan itu pakai rok mini adalah maksiat, apalagi mengobarkannya itu lebih lagi. Maka perlu dihadapi, agar masayarakat ini tidak tambah rusak lagi.
Jama’ah Jum’ah rahimakumullah, masih ada perusakan Islam yang sebenarnya tidak kalah dengan maksiat itu. Bahayanya juga tidak kalah dibanding yang kasus di paskasarjana itu, dan bergeraknya juga di lingkungan Ummat Islam. Perusakan Islam itu terjadi karena seolah hamba ini yang tugasnya hanya mengikuti syari’at ini, tahu-tahu berani secara lancang membuat syari’at baru. Bukan mencukupkan diri untuk mengikuti apa yang telah dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun membuat-buat yang baru lagi. Sebenarnya ini tidak lebih ringan bahayanya dibanding maksiat, namun tidak mudah orang menyadarinya, hingga para pengusungnya berani “jualan” di rumah-rumah Allah, tidak sekadar seperti pengusung rok mini yang dalam membela kemaksiatannya mereka berteriak di jalanan.
Jama’ah Jum’ah rahimakumullah, perlu diperhatikan dalam hadits ditegaskan:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا مِنْ نَبِيٍّ بَعَثَهُ اللَّهُ فِي أُمَّةٍ قَبْلِي إِلَّا كَانَ لَهُ مِنْ أُمَّتِهِ حَوَارِيُّونَ وَأَصْحَابٌ يَأْخُذُونَ بِسُنَّتِهِ وَيَقْتَدُونَ بِأَمْرِهِ ثُمَّ إِنَّهَا تَخْلُفُ مِنْ بَعْدِهِمْ خُلُوفٌ يَقُولُونَ مَا لَا يَفْعَلُونَ وَيَفْعَلُونَ مَا لَا يُؤْمَرُونَ فَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِيَدِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِلِسَانِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِقَلْبِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَيْسَ وَرَاءَ ذَلِكَ مِنْ الْإِيمَانِ حَبَّةُ خَرْدَلٍ.
Dari Abdullah bin Mas’ud bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Tidak ada seorang nabi pun yang diutus Allah kepada suatu ummat sebelumku, melainkan dari umatnya itu terdapat orang-orang yang menjadi pengikut dan sahabatnya, yang mengamalkan Sunnahnya dan menaati perintahnya." (Dalam riwayat lain dikatakan, Mereka mengikuti petunjuknya dan menjalankan Sunnahnya)
"Kemudian setelah terjadi generasi pengganti yang buruk, dimana mereka mengatakan sesuatu yang tidak mereka kerjakan dan mengerjakan sesuatu yang tidak diperintahkan, maka orang-orang yang memerangi mereka dengan tangannya, niscaya dia termasuk orang-orang yang beriman. Dan orang-orang yang memerangi mereka dengan lisannya, niscaya dia termasuk orang-orang yang beriman. Demikian juga dengan orang yang memerangi mereka dengan hatinya, niscaya dia termasuk orang yang beriman. Selain itu, maka tidak ada keimanan sebesar biji sawi pun."(HR. Imam Muslim)
Jama’ah Jum’ah rahimakumullah, keburukan yang harus diperangi itu wujudnya dalam hadits itu adalah:
يَقُولُونَ مَا لَا يَفْعَلُونَ وَيَفْعَلُونَ مَا لَا يُؤْمَرُونَ
Mereka mengatakan sesuatu yang tidak mereka kerjakan dan mengerjakan sesuatu yang tidak diperintahkan.
Mulut mereka mengatakan sesuatu (kebaikan/yang diperintahkan) namun mereka tidak mengerjakannya. Sedang yang mereka kerjakan justru yang tidak diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Betapa banyaknya kejadian seperti itu sekarang. Bahkan mengerjakan hal-hal yang tidak diperintahkan itupun masih pula mereka pertahankan dan kobarkan. Apabila ada yang mengusiknya, maka dikobarkanlah permusuhan terhadap yang ingin menegakkan Islam sesuai dengan tuntunan aslinya itu.
Kenapa jadi rusak seperti itu?
Dalam atsar sahabat disebutkan:
عَنْ زِيَادِ بْنِ حُدَيْرٍ قَالَ قَالَ لِى عُمَرُ : هَلْ تَعْرِفُ مَا يَهْدِمُ الإِسْلاَمَ؟ قَالَ قُلْتُ : لاَ. قَالَ : يَهْدِمُهُ زَلَّةُ الْعَالِمِ وَجِدَالُ الْمُنَافِقِ بِالْكِتَابِ وَحُكْمُ الأَئِمَّةِ الْمُضِلِّينَ. )رواه الدارمي، وقال الشيخ حسين أسد: إسناده صحيح.(
Dari Ziyad bin Hudair, ia berkata, Umar telah berkata kepadaku: Apakah kamu tahu apa yang merobohkan Islam? Ia (Ziyad) berkata, aku berkata: Tidak. Ia (Umar) berkata: Yang merobohkan Islam adalah tergelincirnya orang alim (ulama), bantahan orang munafik dengan al-Qur’an, dan keputusan pemimpin-pemimpin yang menyesatkan. (Riwayat ad-Darimi, dan berkata Syaikh Husain Asad: isnadnya —pertalian riwayatnya—shahih).
Jama’ah Jum’ah rahimakumullah, ketika 3 unsur perusak Islam (yaitu ulama yang tergelincir —pada kebatilan atau kesesatan—, orang munafik yang membantah dengan dalih Al-Qur’an, dan para pemimpin yang keputusannya menyestkan) itu bersatu padu, maka benar-benar dahsyat perusakannya terhadap Islam. Dan itu terjadi sekarang, bahkan secara sistematis serta dibiayai, hingga ada kuburan di Jombang yang dibiayai pakai APBN dan APBD sampai 180 Miliar rupiah. Yang duitnya adalah hasil utang dari luar negeri dan menarik pajak setinggi-tingginya. Itu demi apa yang dalam hadits tersebut:
يَقُولُونَ مَا لَا يَفْعَلُونَ وَيَفْعَلُونَ مَا لَا يُؤْمَرُونَ
Mereka mengatakan sesuatu yang tidak mereka kerjakan dan mengerjakan sesuatu yang tidak diperintahkan.
Jama’ah Jum’ah rahimakumullah, dengan adanya perusakan Islam secara sistematis itu, apa yang perlu dilakukan?
Di antaranya Allah Ta’ala menegaskan:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ لَا يَضُرُّكُمْ مَنْ ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ [المائدة/105]
"Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk [453]. Hanya kepada Allah kamu kembali semuanya, maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan." (QS. Al-Maaidah [5] : 105)
[453]. Maksudnya: kesesatan orang lain itu tidak akan memberi mudharat kepadamu, asal kamu telah mendapat petunjuk. Tapi tidaklah berarti bahwa orang tidak disuruh berbuat yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar.
Semoga Allah Ta’ala menjaga diri kita dari aneka perusakan dan kemunkaran, dan semoga Allah menguatkan untuk memberantasnya, sehingga Ummat Islam menjadi masyarakat yang Allah ridhoi karena taat dan patuh kepadaNya dan taat pula kepada Rasululllah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Amien ya Rabbal ‘alamien.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ .
Khutbah Kedua
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ.
وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ.
أَمَّا بَعْدُ؛ وَلاَ تَكُونُواْ كَالَّذِينَ قَالُوا سَمِعْنَا وَهُمْ لاَ يَسْمَعُونَ
إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ . وَصَلى الله وسَلم عَلَى مُحَمد تسليمًا كَثيْرًا . وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.