Jumat, 23 Maret 2012

Al Hasiib, Yang Memberi Kecukupan


Dasar penetapan
Nama Allah Subhanahu wa Ta’ala yang maha agung ini disebutkan dalam beberapa ayat al-Qur’an:
وَكَفَى بِاللَّهِ حَسِيبًا
Dan cukuplah Allah sebagai pemberi kecukupan” (an-Nisaa’: 6).
الَّذِينَ يُبَلِّغُونَ رِسَالاتِ اللَّهِ وَيَخْشَوْنَهُ وَلا يَخْشَوْنَ أَحَدًا إِلا اللَّهَ وَكَفَى بِاللَّهِ حَسِيبًا
(Yaitu) orang-orang yang menyampaikan risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan tidak merasa takut kepada siapapun  selain kepada-Nya. Dan cukuplah Allah sebagai pemberi kecukupan” (al-Ahzaab: 39).
Berdasarkan ayat di atas, para ulama menetapkan nama al-Hassib sebagai salah satu dari nama-nama Allah ‘Azza wa Jalla yang maha indah, seperti Imam Ibnul Atsir[1], Ibnu Qayyim al-Jauziyyah[2], Syaikh ‘Abdur Rahman as-Sa’di[3], Syaikh Muhammad bin Shaleh al-’Utsaimin[4], dan lain-lain.

Makna nama Allah Subhanahu wa Ta’ala al-Hasiib dan penjabarannya
Imam Ibnu Faris menjelaskan bahwa asal kata nama ini menunjukkan empat makna, salah satunya adalah al-kifaayah (memberi kecukupan)[5]. Makna asal secara bahasa ini juga disebutkan oleh imam al-Fairuz Abadi[6] dan Ibnu Manzhur[7]. Imam Ibnul Atsir menjelaskan bahwa makna nama Allah ‘Azza wa Jalla ini adalah al-Kaafi (Yang Maha Memberi kecukupan)[8].
Maka makna nama Allah ‘Azza wa Jalla al-Hasiib adalah Yang Maha Mencukupi hamba-hamba-Nya dalam semua kebutuhan mereka, baik dalam urusan agama maupun urusan dunia, Dia yang memudahkan bagi mereka segala kebaikan dan mencegah dari mereka segala keburukan[9].
Termasuk makna nama-Nya al-Hasiib adalah bahwa maha menjaga, menghitung dan mengetahui semua amal perbuatan para hamba-Nya, membedakan antara amal yang baik dan buruk, serta mengetahui balasan yang berhak mereka dapatkan dan kadar pahala atau siksaan yang mereka terima[10].
Syaikh ‘Abdur Rahman as-Sa’di memerinci penjabaran makna nama Allah Ta’ala yang maha agung ini dalam ucapan beliau: “Al-Hasiib adalah yang maha mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya, yang maha memberi kecukupan kepada orang-orang yang bertawakal kepada-Nya, dan maha memberikan balasan (yang sempurna) bagi para hamba-Nya dengan kebaikan atau keburukan sesuai dengan hikmah-Nya (yang maha tinggi) dan pengetahuan-Nya (yang maha sempurna) tentang amal perbuatan mereka yang besar maupun kecil.
Al-Hasiib (juga) bermakna yang maha mengawasi dan memperhitungkan (amal perbuatan) hamba-hamba-Nya, serta memberikan balasan bagi mereka dengan keadilan (yang sempurna) dan keutamaan (dari-Nya). Juga bermakna yang maha mencukupi hamba-Nya dalam (segala) kesedihan dan kekalutannya. (Makna yang) lebih khusus dari semua itu, bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala maha memberi kecukupan kepada orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Dia akan mencukupkan (segala keperluan)nya” (QS ath-Thalaaq: 3).
Artinya, Allah akan memberikan kecukupan baginya dalam (segala) urusan agama dan dunianya.
Demikian juga al-Hasiib adalah yang maha menjaga dan memperhitungkan semua amal perbuatan hamba-hamba-Nya, yang baik maupun buruk, (kemudian memberikan balasan yang sempurna), jika amal baik maka akan mendapatkan balasan yang baik, dan jika buruk maka akan mendapatkan balasan yang buruk. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ حَسْبُكَ اللَّهُ وَمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِين
Hai Nabi, cukuplah Allah (menjadi pelindung) bagimu dan bagi orang-orang mukmin yang mengikuti (petunjuk)mu” (QS al-Anfaal:64).
Artinya: Allah akn memberikan kecukupan (perlindungan) bagimu dan bagi orang-orang yang mengikuti (petunjuk)mu. Maka kecukupan (dari) Allah bagi hamba-Nya adalah sesuai dengan kesungguhan hamba tersebut dalam mengikuti (petunjuk) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lahir dan batin, juga sesuai dengan penghambaan dirinya kepada Allah ‘Azza wa Jalla[11].

Pembagian sifat “memberi kecukupan” dari Allah ‘Azza wa Jalla kepada makhluk-Nya
Kecukupan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada makhluk-Nya ada dua macam, yaitu:
1. Kecukupan yang bersifat umum meliputi semua makhluk-Nya, yang beriman maupun yang kafir, yang taat kepada-Nya maupun yang durhaka, yaitu dengan menciptakan, menolong, menyiapkan dan memberikan segala keperluan untuk kelangsungan hidup mereka di dunia, berupa makanan, minuman dan penunjang kehidupan dunia lainnya.

2. Kecukupan yang bersifat khusus dari-Nya, ini hanya diperuntukkan bagi hamba-hamba-Nya yang bertakwa dan bertawakkal kepada-Nya. Dengan inilah Allah Ta’ala memperbaiki dan meluruskan semua urusan mereka, baik yang berhubungan dengan agama maupun dunia[12].
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا. وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ، وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan baginya jalan ke luar (bagi semua urusannya). Dan memberinya rezki dari arah yang tidada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (segala keperluan)nya” (QS ath-Thalaaq:2-3).
Artinya: Barangsiapa yang percaya kepada Allah dalam memasrahkan (semua) urusan kepada-Nya maka Dia akan mencukupi (segala) keperluan dan urusannya, baik yang berhubungan dengan agama maupun dunia[13].
Salah seorang ulama salaf berkata: “Cukuplah bagimu untuk melakukan tawassul (sebab yang disyariatkan untuk mendekatkan diri) kepada Allah adalah dengan Dia mengetahui (adanya) tawakal yang benar kepada-Nya dalam hatimu, berapa banyak hamba-Nya yang memasrahkan urusannya kepada-Nya, maka Diapun mencukupi (semua) keperluan hamba tersebut”. Kemudian ulama ini membaca ayat tersebut di atas[14].
Dalam ayat lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ حَسْبُكَ اللَّهُ وَمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِين
Hai Nabi, cukuplah Allah (menjadi pelindung) bagimu dan bagi orang-orang mukmin yang mengikuti (petunjuk)mu” (QS al-Anfaal:64).
Ayat ini menunjukkan bahwa kecukupan (khusus) dari Allah ‘Azza wa Jalla kepada hamba-Nya adalah sesuai dengan kadar keimanan dan kesungguhan hamba tersebut dalam mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam[15].

Pengaruh positif dan manfaat mengimani nama Allah al-Hasiib
Keimanan yang benar terhadap nama-Nya yang maha agung ini akan menumbuhkan dalam diri seorang hamba sikap tawakkal (penyandaran hati) yang benar kepada Allah ‘Azza wa Jalla, yang ini merupakan sebab utama untuk meraih kecukupan dan pertolongan dari-Nya dalam semua urusan yang dihadapi hamba tersebut. Maka jika seorang mukmin bertawakkal dengan benar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dengan dia menyandarkan hatinya secara utuh dan sempurna kepada-Nya dalam mengusahakan semua kebaikan dan mencegah semua keburukan, disertai dengan keyakinan dan sangka baik kepada-Nya, maka Allah Ta’ala akan memberikan kecukupan yang sempurna kepadanya, memperbaiki keadaannya, meluruskan semua ucapan dan perbuatannya, serta melapangkan semua kesusahan dan kesedihannya.
Ayat-ayat al-Qur’an menjelaskan bahwa penghambaan diri dan tawakkal yang benar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan perkara yang wajib dilakukan untuk meraih kecukupan dari-Nya yang khusus diperuntukkan-Nya kepada para kekasih-Nya dan hamba-hamba-Nya yang bertakwa kepada-Nya[16]. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Dia akan mencukupkan (segala keperluan)nya” (QS ath-Thalaaq: 3).
Dalam ayat lain, Allah juga berfirman:
أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ
Bukankan Allah cukup untuk melindungi hamba-hamba-Nya?” (QS az-Zumar: 36).
Imam Ibnul Qayyim berkata: “Tawakkal kepada Allah adalah termasuk sebab yang paling kuat untuk melindungi diri seorang hamba dari gangguan, kezhaliman dan permusuhan orang lain yang tidak mampu dihadapinya sendiri. Allah akan memberikan kecukupan kepada orang yang bertawakkal kepada-Nya. Barangsiapa yang telah diberi kecukupan dan dijaga oleh Allah Ta’ala maka tidak ada harapan bagi musuh-musuhnya untuk bisa mencelakakannya. Bahkan dia tidak akan ditimpa kesusahan kecuali sesuatu yang mesti (dirasakan oleh semua makhluk), seperti panas, dingin, lapar dan dahaga. Adapun gangguan yang diinginkan musuhnya maka selamanya tidak akan menimpanya. Maka (jelas sekali) perbedaan antara gangguan yang secara kasat mata menyakitinya, meskipun pada hakikatnya merupakan kebaikan baginya (untuk menghapuskan dosa-dosanya) dan untuk menundukkan nafsunya, dan gangguan (dari musuh-musuhnya) yang dihilangkan darinya.
Salah seorang ulama salaf berkata: “Allah ‘Azza wa Jalla menjadikan bagi setiap perbuatan balasan dari jenis perbuatan itu, dan Dia menjadikan balasan bagi (hamba yang) bertawakkal kepada-Nya (adalah) kecukupan dari-Nya untuk hamba tersebut. Allah berfirman:
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Dia akan mencukupkan (segala keperluan)nya” (QS ath-Thalaaq: 3).
Dia tidak berfirman: (barangsiapa yang bertawakal kepada Allah) maka Kami akan berikan kepadanya pahala sekian dan sekian, sebagaimana dalam amal-amal shaleh lainnya. Akan tetapi Allah ‘Azza wa Jalla menjadikan diri-Nya sebagai pemberi kecukupan, pelindung dan penolong bagi hamba-Nya yang bertawakkal kepada-Nya. Maka kalau seorang hamba bertawakkal kepada-Nya dengan tawakkal yang sebenarnya, kemudian langit dan bumi beserta semua makhluk yang ada di dalamnya ingin memperdayainya (mencelakakannya) maka sungguh Allah akan memberikan jalan keluar, melindungi dan menolong hamba tersebut”[17].
Makna inilah yang terungkap dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Barangsiapa yang ketika keluar rumah membaca (zikir): Bismillahi tawakkaltu ‘alallahi, walaa haula wala quwwata illa billah (Dengan nama Allah, aku berserah diri kepada-Nya, dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan-Nya), maka malaikat akan berkata kepadanya: “(sungguh) kamu telah diberi petunjuk (oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala), dicukupkan (dalam segala keperluanmu) dan dijaga (dari semua keburukan)”, sehingga setanpun tidak bisa mendekatinya, dan setan yang lain berkata kepada temannya: Bagaimana (mungkin) kamu bisa (mencelakakan) seorang yang telah diberi petunjuk, dicukupkan dan dijaga (oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala)?”[18].
Artinya: diberi petunjuk kepada jalan yang benar dan lurus, diberi kecukupan dalam semua urusan dunia dan akhirat, serta dijaga dan dilindungi dari segala keburukan dan kejelekan, dari setan atau yang lainnya[19].
Demikian juga, keimanan yang benar terhadap nama-Nya yang maha agung ini akan menumbuhkan dalam hati seorang hamba perasaan takut kepada Allah ‘Azza wa Jalla semata dan tidak takut kepada gangguan makhluk dalam menegakkan agama-Nya, karena dia meyakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala akan selalu menjaga dan melindungi hamba yang selalu bertakwa dan menegakkan agama-Nya.
Allah ‘Azza wa Jalla memuji para shahabat radhiallahu ‘anhum yang merealisasikan sikap ini dalam menghadapi gangguan dan ancaman orang-orang kafir, dalam firman-Nya:
الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ
(Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul-Nya) yang ketika orang-orang berkata kepada mereka: “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu (justru) menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Dia adalah sebaik-baik Pelindung” (QS Ali ‘Imraan:173).
Sikap ini pulalah yang ditunjukkan oleh Nabi Allah ‘Azza wa Jalla yang mulia, Ibrahim ‘alaihissalam ketika beliau dilemparkan ke dalam api oleh musuh-musuh beliau, karena beliau menghancurkan berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah Ta’ala.
Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhu berkata: “Ucapan terakhir (yang dikatakan oleh) Nabi Ibrahim ‘alaihissalam ketika dilemparkan ke dalam api (adalah): Hasbiyallahu wani’mal wakiil(cukuplah Allah menjadi Penolongku dan Dia adalah sebaik-baik Pelindung)

Penutup
Demikianlah, dan kami akhiri tulisan ini dengan memohon kepada Allah dengan nama-nama-Nya yang maha indah dan sifat-sifat-Nya yang maha sempurna, agar dia senantiasa menganugerahkan kepada kita petunjuk dan taufik-Nya, serta kecukupan dan penjagaan dari-Nya, sesungguhnya Dia Maha memberi kecukupan dan Maha Mengabulkan doa.
وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين
Kota Kendari, 12 Dzulqo’dah 1432 H


[1] Dalam kitab “an-Nihaayah fi gariibil hadiitsi wal atsar” (1/955).
[2] Dalam kitab beliau “Bada-i’ul fawa-id” (2/473).
[3] Dalam kitab “Tafsiiru asma-illahil husna” (hal. 30).
[4] Dalam kitab “al-Qawa-’idul mutsla” (hal. 40).
[5] Mu’jamu maqaayiisil lughah (2/47).
[6] Kitab “al-Qamus al-muhith” (hal. 94).
[7] Kitab “Lisaanul ‘Arab” (1/310).
[8] Dalam kitab “an-Nihaayah fi gariibil hadiitsi wal atsar” (1/955).
[9] Lihat kitab “Fiqhul asma-il husna” (hal. 234).
[10] Lihat kitab “Fiqhul asma-il husna” (hal. 234).
[11] Lihat penjelasan syaikh ‘Abdur Rahman as-Sa’di dalam “Tafsiiru asma-illahil husna” (hal. 30-31).
[12] Lihat kitab “Fiqhul asma-il husna” (hal. 234).
[13] Lihat kitab “Fathul Qadiir” (7/241) dan “Aisarut tafaasiir” (4/274).
[14] Dinukil oleh imam Ibnu Rajab dalam kitab “Jaami’ul ‘uluumi wal hikam” (2/497).
[15] Lihat penjelasan syaikh ‘Abdur Rahman as-Sa’di dalam kitab “Tafsiiru asma-illahil husna” (hal. 31).
[16] Lihat kitab “Fiqhul asma-il husna” (hal. 234-235).
[17] Kitab “Bada-i’ul fawa-id” (2/464-465).
[18] HR Abu Dawud (no. 5095) dan at-Tirmidzi (no. 3426), dishahihkan oleh at-Tirmidzi dan al-Albani.
[19] Lihat kitab “Fiqhul asma-il husna” (hal. 235).

Keutamaan Ziarah Kubur


Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِى شَيْبَةَ وَزُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ قَالاَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُبَيْدٍ عَنْ يَزِيدَ بْنِ كَيْسَانَ عَنْ أَبِى حَازِمٍ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ زَارَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- قَبْرَ أُمِّهِ فَبَكَى وَأَبْكَى مَنْ حَوْلَهُ فَقَالَ « اسْتَأْذَنْتُ رَبِّى فِى أَنْ أَسْتَغْفِرَ لَهَا فَلَمْ يُؤْذَنْ لِى وَاسْتَأْذَنْتُهُ فِى أَنْ أَزُورَ قَبْرَهَا فَأُذِنَ لِى فَزُورُوا الْقُبُورَ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ الْمَوْتَ »
Dari Abu Bakr bin Abi Syaibah dan Zuhair bin Harb, mereka berdua berkata: Muhammad Bin ‘Ubaid menuturkan kepada kami: Dari Yaziid bin Kasyaan, ia berkata: Dari Abu Haazim, ia berkata: Dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam berziarah kepada makam ibunya, lalu beliau menangis, kemudian menangis pula lah orang-orang di sekitar beliau. Beliau lalu bersabda: “Aku meminta izin kepada Rabb-ku untuk memintakan ampunan bagi ibuku, namun aku tidak diizinkan melakukannya. Maka aku pun meminta izin untuk menziarahi kuburnya, aku pun diizinkan. Berziarah-kuburlah, karena ia dapat mengingatkan engkau akan kematian
(HR. Muslim no.108, 2/671)
Faidah:
  • Haram hukumnya memintakan ampunan bagi orang yang mati dalam keadaan kafir (Nailul Authar [219], Syarh Shahih Muslim Lin Nawawi [3/402]). Sebagaimana juga firman Allah Ta’ala:
     مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى
    Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya)” (QS. At Taubah: 113)
  • Berziarah kubur ke makam orang kafir hukumnya boleh (Syarh Shahih Muslim Lin Nawawi, 3/402). Berziarah kubur ke makam orang kafir ini sekedar untuk perenungan diri, mengingat mati dan mengingat akhirat. Bukan untuk mendoakan atau memintakan ampunan bagi shahibul qubur. (Ahkam Al Janaaiz Lil Albani, 187)
  • Jika berziarah kepada orang kafir yang sudah mati hukumnya boleh, maka berkunjung menemui orang kafir (yang masih hidup) hukumnya juga boleh (Syarh Shahih Muslim Lin Nawawi, 3/402).
  • Hadits ini adalah dalil tegas bahwa ibunda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam mati dalam keadaan kafir dan kekal di neraka (Syarh Musnad Abi Hanifah, 334)
  • Tujuan berziarah kubur adalah untuk menasehati diri dan mengingatkan diri sendiri akan kematian (Syarh Shahih Muslim Lin Nawawi, 3/402)
  • An Nawawi, Al ‘Abdari, Al Haazimi berkata: “Para ulama bersepakat bahwa ziarah kubur itu boleh bagi laki-laki” (Fathul Baari, 4/325). Bahkan Ibnu Hazm berpendapat wajib hukumnya minimal sekali seumur hidup. Sedangkan bagi wanita diperselisihkan hukumnya. Jumhur ulama berpendapat hukumnya boleh selama terhindar dari fitnah, sebagian ulama menyatakan hukumnya haram mengingat hadits ,
    لَعَنَ اللَّه زَوَّارَات الْقُبُور
    Allah melaknat wanita yang sering berziarah kubur” (HR. At Tirmidzi no.1056, komentar At Tirmidzi: “Hadits ini hasan shahih”)
    Dan sebagian ulama berpendapat hukumnya makruh (Fathul Baari, 4/325). Yang rajih insya Allah, hukumnya boleh bagi laki-laki maupun wanita karena tujuan berziarah kubur adalah untuk mengingat kematian dan mengingat akhirat, sedangkan ini dibutuhkan oleh laki-laki maupun perempuan (Ahkam Al Janaaiz Lil Albani, 180).
  • Ziarah kubur mengingatkan kita akan akhirat. Sebagaimana riwayat lain dari hadits ini:
    زوروا القبور ؛ فإنها تذكركم الآخرة
    Berziarah-kuburlah, karena ia dapat mengingatkanmu akan akhirat” (HR. Ibnu Maajah no.1569)
  • Ziarah kubur dapat melembutkan hati. Sebagaimana disebutkan dalam hadits yang lain:
    كنت نهيتكم عن زيارة القبور ألا فزوروها فإنها ترق القلب ، وتدمع العين ، وتذكر الآخرة ، ولا تقولوا هجرا
    Dulu aku pernah melarang kalian untuk berziarah-kubur. Namun sekarang ketahuilah, hendaknya kalian berziarah kubur. Karena ia dapat melembutkan hati, membuat air mata berlinang, dan mengingatkan kalian akan akhirat namun jangan kalian mengatakan perkataan yang tidak layak (qaulul hujr), ketika berziarah” (HR. Al Haakim no.1393, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jaami’, 7584)
  • Ziarah kubur dapat membuat hati tidak terpaut kepada dunia dan zuhud terhadap gemerlap dunia. Dalam riwayat lain hadits ini disebutkan:
    كنت نهيتكم عن زيارة القبور فزوروا القبور فإنها تزهد في الدنيا وتذكر الآخرة
    Dulu aku pernah melarang kalian untuk berziarah-kubur. Namun sekarang ketahuilah, hendaknya kalian berziarah kubur. Karena ia dapat membuat kalian zuhud terhadap dunia dan mengingatkan kalian akan akhirat” (HR. Al Haakim no.1387, didhaifkan Al Albani dalam Dha’if Al Jaami’, 4279)
  • Al Munawi berkata: “Tidak ada obat yang paling bermanfaat bagi hati yang kelam selain berziarah kubur. Dengan berziarah kubur, lalu mengingat kematian, akan menghalangi seseorang dari maksiat, melembutkan hatinya yang kelam, mengusir kesenangan terhadap dunia, membuat musibah yang kita alami terasa ringan. Ziarah kubur itu sangat dahsyat pengaruhnya untuk mencegah hitamnya hati dan mengubur sebab-sebab datangnya dosa. Tidak ada amalan yang sedahsyat ini pengaruhnya” (Faidhul Qaadir, 88/4)
  • Disyariatkannya ziarah kubur ini dapat mendatangkan manfaat bagi yang berziarah maupun bagi shahibul qubur yang diziarahi (Ahkam Al Janaiz Lil Albani, 188). Bagi yang berziarah sudah kami sebutkan di atas. Adapun bagi  shahibul qubur yang diziarahi (jika muslim), manfaatnya berupa disebutkan salam untuknya, serta doa dan permohonan ampunan baginya dari peziarah. Sebagaimana hadits:
    كيف أقول لهم يا رسول الله؟ قال: قولي: السلام على أهل الديار من المؤمنين والمسلمين، ويرحم الله المستقدمين منا والمستأخرين وإنا إن شاء الله بكم للاحقون
    Aisyah bertanya: Apa yang harus aku ucapkan bagi mereka (shahibul qubur) wahai Rasulullah? Beliau bersabda: Ucapkanlah: Assalamu ‘alaa ahlid diyaar, minal mu’miniina wal muslimiin, wa yarhamullahul mustaqdimiina wal musta’khiriina, wa inna insyaa Allaahu bikum lalaahiquun (Salam untuk kalian wahai kaum muslimin dan mu’minin penghuni kubur. Semoga Allah merahmati orang-orang yang telah mendahului (mati), dan juga orang-orang yang diakhirkan (belum mati). Sungguh, Insya Allah kami pun akan menyusul kalian” (HR. Muslim no.974)
  • Ziarah kubur yang syar’i dan sesuai sunnah adalah ziarah kubur yang diniatkan sebagaimana hadits di atas, yaitu menasehati diri dan mengingatkan diri sendiri akan kematian. Adapun yang banyak dilakukan orang, berziarah-kubur dalam rangka mencari barokah, berdoa kepada shahibul qubur adalah ziarah kubur yang tidak dituntunkan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Selain itu Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam juga melarang qaulul hujr ketika berziarah kubur sebagaimana hadits yang sudah disebutkan. Dalam riwayat lain disebutkan:
    ولا تقولوا ما يسخط الرب
    Dan janganlah mengatakan perkataan yang membuat Allah murka” (HR. Ahmad 3/38,63,66, Al Haakim, 374-375)
    Termasuk dalam perbuatan ini yaitu berdoa dan memohon kepada shahibul qubur, ber-istighatsah kepadanya, memujinya sebagai orang yang pasti suci, memastikan bahwa ia mendapat rahmat, memastikan bahwa ia masuk surga, (Ahkam Al Janaiz Lil Albani, 178-179)
  • Tidak benar persangkaan sebagian orang bahwa ahlussunnah atau salafiyyin melarang ummat untuk berziarah kubur. Bahkan ahlussunnah mengakui disyariatkannya ziarah kubur berdasarkan banyak dalil-dalil shahih dan menetapkan keutamaannya. Yang terlarang adalah ziarah kubur yang tidak sesuai tuntunan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam yang menjerumuskan kepada perkara bid’ah dan terkarang mencapai tingkat syirik.

Penulis: Yulian Purnama

~ 3 Tips Mengingat Kematian ~


Jika mengingat kematian adalah sesutau yang mulia dan diperintahkan oleh Islam, maka mengusahakannya menjadi sesuatu yang penting pula. Ada banyak cara dan kiat untuk membuat kita selalu ingat mati. Beberapa di antaranya :

Pertama, berusaha sekuat tenanga untuk mengingat kematian yang menimpa orang lain, entah itu saudara, keluarga, atau siapa saja di antara manusia yang telah mendahului kita. Misalnya, saat kita berjalan kemudian berpapasan dengan rombongan yang memanggul keranda jenazah, di saat itulah kita berusaha mengingat kematian.

Atau saat tetangga kanan-kiri kita ada yang meninggal, kita juga berusaha mengingat kematian dengan mengatakan dalam diri kita, “Hari ini tetanggaku telah meninggal, mungkin esok, lusa, atau beberapa hari lagi aku yang akan dipanggil oleh Allah Ta’ala.”

Hal demikian jika kita lakukan dengan sungguh-sungguh, akan membuat kita terhindar dari pembicaraan yang tidak berguna kala bertakziah kepada keluarga yang ditinggal mati kerabatnya seperti yang sering kita perhatikan atau bahkan kita sendiri melakukannya.
Padahal Rasulullah sallallahu alaihi wasallam pernah menegur beberapa orang yang berbicara tanpa guna. Beliau mengatakan, “Andaikata kalian banyak mengingat ‘pemotong kenikmatan’ niscaya kalian tidak banyak berbicara seperti ini, perbanyaklah mengingat ‘pemotong kenikmatan’. (HR. Turmudzi (2648))

Kedua, setelah kita mengingat kematian itu sendiri, cobalah kita membayangkan bagaimana sepi dan sunyinya alam kubur itu, tidak ada yang menemani di hari-hari yang dilalui. Suami atau istri yang paling cinta sekalipun tidak ada yang sanggup menemani jika kita telah wafat, terkubur dalam tumpukan debu dan tanah.
Diceritakan dari Abu Bakar Al-Isma`ili dengan sanandnya dari Usman bin Affan, bahwa apabila mendengar cerita neraka, ia tidak menangis. Bila mendengar cerita kiamat, ia tidak menangis. Namun, apabila mendengar cerita kubur, ia menangis.
“Mengapa demikian, wahai Amirul Mukminin,” tanya seseorang kepada beliau. Usman menjawab, “Apabila aku berada di neraka, aku tinggal bersama orang lain, pada hari kiamat aku bersama orang lain, namun bila aku berada di kubur, aku hanya seorang diri.” (Syeikh Muhammad bin Abu Bakar Al-`Ushfuri, Syarh Al-Mawaa`idz Al-`Ushfuuriyyah, Jakarta: Dar Al-Kutub Al-Islamiyah, hal. 28)

Kesendirian dan sepi senyapnya alam kubur dapat berubah menjadi kebahagiaan atau kesengsaraan, tergantung amal kita selama hidup di dunia. Kuburan dapat menjadi lumbung kebahagiaan atau menjadi sumber siksa dan sengsara. “Kubur itu bisa merupakan salah satu kebun surga atau salah satu parit neraka,” sabda Nabi sallallahu alaihi wasallam. (HR. Turmudzi (2460))

Hal ini bisa didapatkan dengangan mendengarkan ceramah-ceramah tentang kematian serta menghadiri majlis-majlis ta’lim sehingga hati kita senantiasa dekat dengan Allah Ta’ala dan tidak tertipu dengan kehidupan dunia.

Ketiga, termasuk hal sangat dianjurkan dalam upaya kita mengingat mati adalah berziarah ke kubur. Ziarah kubur merupakah perkara yang disunnahkan dan sangat direkomendasikan oleh rasulullah sallallahu alaihi wasallam.

Lewat kegiatan ziarah, kita mengambil pelajaran dan hikmah tentang keadaan alam kubur, dan apa yang terjadi di dalamnya, serta kehidupan yang akan dilewati usai dari alam kubur nantinya.
Dalam sebuah hadits, nabi berpesan, “Aku pernah melarang kalian untuk berziarah kubur, namun sekarang berziaralah sebab ia dapat mengingatkan akan kehidupan akhirat dan menjauhi kemewahan dunia.” (HR. Muslim (977))

Marilah kita mencoba merenungi sisa-sisa umur kita, muhasabah pada diri kita masing- masing. Tentang masa muda kita, untuk apa kita pergunakan. Apakah untuk melaksanakan taat kepada Allah ataukah hanya bermain-main saja ? Tentang harta kita, dari mana kita peroleh, halalkah ia atau haram ? Dan untuk apa kita belanjakan, apakah untuk bersedekah ataukah hanya untuk berfoya-foya? Dan terus kita muhasabah terhadap diri kita dari hari-hari yang telah kita lalui.

Perlu kita ingat, umur kita semakin berkurang. Kematian pasti akan menjemput kita. Dosa terus bertambah. Lakukanlah taubat sebelum ajal menjemput kita. Waktu yang telah berlalu tidak akan kembali lagi.

”*Petiklah 10 Kuntum Bunga Untukmu*”

Wahai Saudariku..
Saat kita mengarungi kehidupan ini, kita tak akan pernah terlepas dari banyak sekali ujian, tantangan dan resiko. Setiap diri kita pasti berusaha untuk berhasil melaluinya, untuk itu haruslah kita memiliki perisai dalam menghadapinya..

Ya ukhty fillah..^^
Ku persembahkan untukmu bunga-bunga yang dapat dipetik, sehingga bisa menjadi perisai bagi kita..
Ku harap engkau sudi memetiknya, selamat menikmati persembahan ini ^^

Bunga pertama..
Ingatlah bahwa Rabbmu adalah Dzat yang mengampuni orang yang beristighfar, Dzat yang akan menerima taubat orang yang bertaubat dan menerima orang yang kembali kepadaNya..

Bunga kedua..
Janganlah berputus asa, karena perubahan itu tak bisa secepat yang engkau harapkan. Engkau pun pasti akan menghadapi banyak rintangan yang bisa melemahkan semangatmu. Maka janganlah engkau mau dikalahkan olehnya..

Bunga ketiga..
Optimislah!
Maka Allah selalu bersamamu, para malaikat akan senantiasa memohonkan ampun untukmu, dan syurga senantiasa menunggumu..

Bunga keempat..
Hapuslah air matamu dengan berbaik sangka kepada Rabbmu. Lemparkanlah kegundahanmu dengan mengingat nikmat Allah yang telah dilimpahkan kepadamu. .

Bunga kelima..
Janganlah mengira bahwa bumi ini akan sempurna bagi seseorang. Tidak ada di bumi ini seorangpun yang memperoleh segenap keinginannya dan selamat dari segenap kesedihan..

Bunga ke ennam..
Jadilah engkau seperti pohon kurma yang tinggi cita-citanya, jauh dari kotoran-kotoran, jika engkau melemparinya dengan batu, maka ia akan memberikan kurma segarnya padamu..

Bunga ketujuh..
Bila engkau menyerah pada keputus asaan, engkau tidak akan pernah mendapatkan pengalaman dan tidak pula mendapatkan kebahagiaan..

Bunga kedelapan..
Jangan melihat pahitnya kehidupan, akan tetapi lihatlah keindahannya..

Bunga kesembilan..
Padamkanlah api kebencian dari dadamu dengan pemberian maaf yang sempurna kepada setiap orang yang berlaku buruk kepadamu..

Bunga kesepuluh..
Hadapilah kenyataan yang tidak bisa engkau hadapi ini, bahwa engkau pasti akan menghadapi beberapa perkara dunia yang tidak bisa engkau ubah. Maka, hadapilah semua itu dengan kesabaran dan keimanan..


by Dr. 'Aidh Abdullah Al-Qarni"

Rabu, 21 Maret 2012

Sayyidul Istighfar (Penghulu Istighfar)


SAYYIDUL ISTIGHFAR ( سيد الإستغفر ) : Sebaik-baik istighfar adalah Sayyidul Istighfar. Barangsiapa yang setiap hari pada pagi dan sore hari membiasakan dirinya membaca doa tersebut dengan penuh keyakinan, maka Nabi sollallahu ’alaih wa sallam menjamin pelakunya sebagai penghuni syurga di akherat kelak.

عن النبي صلى الله عليه وسلم سيد الإستغفرِ أنْ تَقُوْلَ أَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ. لاۤ اِلۤهَ اِلاَّ أَنْتَ خَلَقْـتَِنيْ. وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَىْ عَهْدِكَ. وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ. أَعُوْذُبِكَ مِنْ شَرِّمَاصَنَعْتُ. أَبُوءُلَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ. وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْلِيْ. فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الْذُّنُوْبُ إِلاَّ أَنْتَ. ومن قالها مِنَ النهارِ موقِناً بها فماتَ مِنْ يَوْمِهِ قَبْلَ أَنْ يُمْسِيَ فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الجَنَّةِ ومن قالها من الليل وهو موقنٌ بها فمات قبل أن يُصْبِحَ فهو مِنْ أَهْلِ الجَنَّةِ

Nabi Muhammad sollallaahu ’alaihi wassallam bersabda: “Sayyidul Istighfar ialah kamu berkata:

(Ya Allah, Engkau adalah Rabbku. Tiada Tuhan selain Engkau. Engkau telah menciptakan aku, dan aku adalah hambaMu dan aku selalu berusaha menepati ikrar dan janjiku kepadaMu dengan segenap kekuatan yang aku miliki. Aku berlindung kepadaMu dari keburukan perbuatanku. Aku mengakui betapa besar nikmat-nikmatMu yang tercurah kepadaku; dan aku tahu dan sedar betapa banyak dosa yang telah aku lakukan. Kerananya, ampunilah aku. Tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain Engkau).”

Barangsiapa yang membaca doa ini di petang hari dan dia betul-betul meyakini ucapannya, lalu dia meninggal dunia pada malam harinya, maka dia termasuk penghuni syurga. Barangsiapa yang membaca doa ini di pagi hari dan dia betul-betul meyakini ucapannya, lalu dia meninggal dunia pada siang harinya, maka dia termasuk penghuni syurga.” (HR Bukhari ).

Wallahu A'lam

Minggu, 11 Maret 2012

Dahsyatnya Khasiat Wudhu

Wudhu adalah ritual yang mengutamakan unsur kesehatan. Bagian-bagian yang dibasuh merupakan titik-titik penting peremajaan tubuh. Di lain pihak juga merupakan pintu masuk bagi ribuan kuman,virus, dan bakteri. Bagaimana wudhu menangkalnya?
Stimulasi Titik Biologis
Dalam sebuah artikel yang ditulis Dr. Magomedov,asisten pada lembaga General Hygiene and Ecology di Daghestan State Medical Academy dijelaskan bagaiman wudhu dapat menstimulasi/merangsang irama tubuh alami. Rangsangan ini muncul pada seluruh tubuh,khususnya pada area yang disebut Biological Active Spots (BASes) atau titik-titk aktif biologis. Menurut riset ini,BASes mirip dengan titik-titik refleksologi Cina.
Bedanya,terang Dr. Magomedov,untuk menguasai titik-titik refleksi Cina dengan tuntas paling tidak dibutuhkan waktu 15-20 tahun. Bandingkan dengan praktik wudhu yang sangat sederhana. Keutamaan lainnya,refleksologi hanya berfungsi menyembuhkan sedangkan wudhu sangat efektif mencegah masuknya bibit penyakit.
Menurut peneliti yang juga menguasai ilmu refleksologi Cina ini,61 dari 65 titik refleks Cina adalah bagian tubuh yang dibasuh air wudhu. Lima lainnya terletak antara tumit dan lutut,dimana bagian ini juga merupakan area wudhu yang tidak diwajibkan.
Sistem metabolisme tubuh manusia terhubung dengan jutaan saraf yang ujungnya tersebar di sepanjang kulit. Guyuran air wudhu dalam konsep pengobatan modern adalah hidromassage alias pijat dengan memanfaatkan air sebagai media penyembuhan.
Membasuh area wajah misalnya,pijatan air akan memberi efek positif pada usus,ginjal, dan sisitem saraf maupun reproduksi. Membasuh kaki kiri berefek positif pada kelenjat pituitari. Di telinga terdapat ratusan titik biologis yang akan menurunkan tekanan darah dan mengurangi sakit.
Hancurkan Penyusup
Dari sudut pandang pengobatan medis,Mokhtar Salem dalam bukunya Prayers: a Sport for the Body and Soul menjelaskan bahwa wudhu bisa mencegah kanker kulit. Jenis kanker ini lebih banyak disebabkan oleh bahan-bahan kimia yang setiap hari menempel dan terserap oleh kulit. Cara paling efektif mengeyahkan resiko ini adalah membersihkannya secara rutin. Berwudhu lima kali sehari adalah antisipasi yang lebih dari cukup.
Menurut Salem,membasuh wajah meremajakan sel-sel kulit muka dan membantu mencegah munculnya keriput. Selain kulit,wudhu juga meremajakan selaput lendir yang menjadi gugus depan pertahanan tubuh. Peremajaan menjadi penting karena salah satu tugas utama lendir ibarat membawa contoh benda asing yang masuk kepada 2 senjata pamungkas yang sudah dimilki oleh manusia secara alami,limfosit T(sel T) dan limfosit B(sel B).Keduanya bersiaga di jaringan limfoid dan sistem getah bening serta mampu menghancurkan penyusup yang berniat buruk terhadap tubuh. Bayangkan jika fungsi mereka terganggu. Sebaliknya, wudhu meningkatkan daya kerja mereka.
Pintu masuk lain yang tak kalah penting adalah lubang hidung. Dalam wudhu disunnahkan menghirup air kedalam hidung dan kemudian mengeluarkannya. Cara ini adalah penangkal efektif ISPA (infeksi saluran pernapasan akut),TBC, dan kanker nasofaring secara dini.
Kita sebagai seorang muslim sangat dianjurkan untuk selalu mengambil air wudhu ketika sedang berhadast. Tidak hanya pada waktu sholat,tetapi juga di waktu yang lain. Salah satunya ketika hendak membaca Al-Qur’an,setelah mengantarkan jenazah,bangun dari tidur ataupun ketika sedang mengantuk.
Selain fungsi fisiologis,wudhu juga efektif mengendalikan emosi. Setiap kali mersa ingin marah, seorang muslim sangat dianjurkan untuk mengambil air wudhu untuk mendinginkan pikiran dan menentramkan hati. Apa pun yang yang telah diperintahkan oleh Allah tentu memberi banyak manfaat dan solusi tanpa meninggalkan resiko.Oleh karenanya,mari sebagai seorang muslim kita budayakan kebiasaan untuk selalu berwudhu dalam keseharian kita.Allah sangat mencintai orang-orang yang selalu membersihkan diri.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2010/03/5907/dahsyatnya-khasiat-wudhu/#ixzz1ovDFljvM

Mujahidah: Asma’ binti Yazid, Sang Orator Wanita

 Asma’ binti Yazid adalah wanita yang cerdas dan tidak takut bertanya, sehingga dia menjadi orator dan utusan kalangan wanita. Dia dijuluki dengan Ummu Salamah. Disebut juga dengan Ummu Amir.
Dia tergolong wanita-wanita yang berbaiat dan mujahidah. Suami Asma’ binti Yazid adalah Abu Said Al-Anshari, yang nama sebenarnya adalah Said bin Imarah. Ibunya adalah Ummu Sa’ad binti Huzaim bin Mas’ud Al-Asyhaliyah.
Asma’ adalah utusan para wanita untuk menghadap Rasulullah SAW. Ini menunjukkan bahwa dia termasuk wanita cerdas dan kuat beragama. Pernah diriwayatkan bahwa dia menghadap kepada Nabi SAW seraya berkata, “Aku adalah utusan para wanita Muslimah di belakangku. Mereka seluruhnya mengatakan sebagaimana kata-kataku dan berpendapat sebagaimana pendapatku."
Dia melanjutkan, "Sesungguhnya Allah mengutusmu kepada pria dan wanita. Kami beriman kepada engkau dan mengikuti engkau. Kami terbatas dengan urusan rumah tangga, menjadi tempat pemuas nafsu kaum pria, mengandung anak-anak. Adapun kaum pria dilebihkan dengan shalat Jumat, mengantar jenazah, dan ikut berjihad. Jika mereka keluar untuk berjihad, maka kami menjaga harta mereka dan kami mendidik anak-anak mereka. Apakah kami mendapatkan pahala yang sama dengan pahala mereka, wahai Rasulullah?” tanya Asma.
Rasulullah SAW menolehkan wajahnya kepada para sahabat dan bersabda, “Apakah kalian pernah mendengarkan kata-kata seorang wanita yang bertanya tentang perkara agama yang lebih baik daripada pertanyaan ini?”
Mereka menjawab, “Wahai Rasulullah, kami tidak menyangka bahwa wanita mendapat petunjuk ke arah itu.”
Rasulullah SAW pun mengalihkan wajahnya kepada wanita itu dan bersabda, “Kembalilah wahai Asma’, dan jelaskan kepada siapa pun di belakangmu bahwa jika seorang dari kalian dapat mengurus suami dengan sebaik mungkin, dan ia mencari keridhaan suaminya, menaatinya demi mendapat kesepakatannya, semua yang disebutkan itu sama pahalanya dengan kebaikan yang sama yang dikerjakan kaum pria.”
Asma’ pun kemudian pulang dengan menyerukan takbir dan tahlil sebagai tanda ‎kegembiraannya menyambut perkataan Rasulullah SAW.
Asma’ meninggalkan karya spektakuler di dalam buku catatan tentang para mujahidah, yang dikenang sepanjang masa. Bagaimana tidak, dia itu berasal dari keluarga yang mempersembahkan jiwanya untuk membela Rasulullah SAW.
Saat terjadi perang Uhud, dan ketika keadaan sangat sulit, beberapa orang anggota keluarga As-Sakan merasa terpanggil untuk menjaga Rasulullah SAW dengan bersemangat dan ikhlas. Pada saat itu terlihat dengan jelas kecintaan, keseriusan, dan kepahlawanan.
Sifat-sifat tersebut sangat langka dan menakjubkan. Ketika musuh telah menjadikan Rasulullah dan para sahabat yang bersamanya demikian terjepit, beliau bersabda, “Barangsiapa yang mengusir mereka dari kita, maka baginya surga, atau ia akan menjadi pendampingku di surga.”

Siprus, Tempat Wafatnya Wanita Salehah


 Pada zaman Rasulullah SAW hiduplah seorang Muslimah bernama Ummu Harram binti Milhan. Ia adalah seorang sahabat perempuan yang dikenal pemberani.  Ia bercita-cita gugur syahid di jalan Allah SWT. Impian Muslimah pemberani itu pun akhirnya terkabul.
Tanpa mengenal rasa takut, Ummu Haram berkali-kali turun ke medan perang menegakkan panji-panji agama Allah SWT. Terakhir kali, sang mujahidah berjuang dalam sebuah ekspedisi penaklukkan Siprus atau dikenal dengan Perang Qubrus (Siprus) pada 27 H.
"Pada saat menyebrangi laut, perahu mereka oleng dan Ummu Haram terlempar ke laut sampai meninggal," tulis Dr Syauqi Abu Khalil dalam Athlas al-Hadits an-Nabawi. Menurut dia, makam Ummu Haram terdapat di Siprus dan dikenal dengan nama Makam Wanita Saleh.
Mahmud Mahdi Al-Istanbuli dan Musthafa Abu An-Nashr Asy-Syalabi dalam kitab Nisaa’ Haular Rasuul menuturkan, Ummu Haram adalah saudari Ummu Sulaiman, bibi dari Anas bin Malik. Ummu Haram termasuk salah seorang Muslimah yang mulia. "Ia masuk Islam, berbaiat kepada Nabi SAW setelah ikut hijrah," ungkap Al-Istanbuli dan Asy-Syalabi.
Ia juga tercatat sebagai periwayat hadits dan Anas bin Malik meriwayatkan hadits darinya. Selain itu, ada pula sahabat lainnya yang meriwayatkan hadits dari Ummu Haram. Rasulullah SAW menghormati sosok Ummu Haram. Beliau sempat  mengunjungi dan beristirahat sejenak di rumahnya. Ia dan Ummu Sulaim adalah bibi Rasulullah SAW, baik dari jalur susuan maupun nasab.
Ummu Haram bercita-cita untuk dapat menyertai peperangan bersama para mujahidin  menyeberangi laut untuk berdakwah dan membebaskan manusia dari peribadatan kepada sesama hamba menuju peribadatan kepada Allah SWT. Akhirnya, Sang Khalik pun mengabulkan mewujudkan cita-citanya.
Dalam hadits riwayat Ibu Majah, Anas RA menuturkan, adalah Rasulullah SAW apabila pergi ke Quba, beliau mampir ke rumah Ummu Haram. Pada suatu hari Rasululllah SAW mampir ke rumah Ummu Haram dan menjamunya. Lalu  Rasulullah menyandarkan kepalanya dan tertidur. Tidak beberapa lama kemudian beliau bangun lalu tertawa.
Ummu Haram bertanya, "Apa yang membuat Anda tertawa, ya Rasulullah?"
Beliau bersabda, "Telah diperlihatkan dalam tidurku ada sekelompok manusia dari umatku, mereka berperang di jalan Allah dan berlayar di lautan dan keadaan mereka sebagaimana raja-raja yang penuh kegembiraan (karena lengkapnya persenjataan dan perbekalan mereka)."
Ummu Haram lalu berkata, "Wahai Rasulullah SAW, doakanlah agar aku termasuk golongan mereka."
Rasulullah SAW kemudian mendoakan Ummu Haram. Dan beliau kembali menyandarkan kepalanya dan melanjutkan tidurnya. Sebentar kemudian beliau terbangun dan tertawa.
Ummu Haram bertanya lagi, "Wahai Rasulullah apa yang membuat Anda tertawa?"
Rasulullah bersabda, "Diperlihatkan kepadaku sekelompok manusia dari umatku tengah berjuang di jalan Allah laksana raja yang penuh kegembiraan."
Ummu Haram kembali berkata, "Wahai Rasululllah, doakanlah agar aku termasuk golongan mereka."
Rasululllah bersabda, "Engkau termasuk golongan para pemula."
Anas bin Malik berkata, "Ummu Haram keluar bersama suaminya yang bernama Ubadah bin Shamit. Setelah dinikahi oleh sahabat agung yang bernama Ubadah bin Shamit, Ummu Haram lalu berjihad. Ia bersama suaminya  meraih syahid dalam perang Qubrus (Siprus)."